Posted in Chaptered, Friendship, Girls Generation, Hurt, PG-15, Romance, Seohyun, Yonghwa

My Answer (Chap. VIII)

My Answer - Chap.3 - 7

great poster by JuliaHwang

Thanasa presented

my answer

Seohyun [SNSD], Jung Yonghwa [CNBlue], Park Shin Hye, U-Know [TVXQ] | Chaptered

| Romance, Friendship, Hurt |PG 15+ | General

“Aku merindukan moment seperti ini. Saat-saat ketika hanya ada aku dan Jung Yonghwa.

 

Disclaimer      : Story is absolutely mine. The entire casting is the property of their respective agencies, I just have a plot. This is not perpect story and there’s typo everywhere hehehe. Hope you’ll be enjoy while reading this. Give your RESPONSE after read this story and DON’T BE A PLAGIATOR. Let’s enjoyed, Gamsahamnida :*

-o0o-

 

Kurang dari satu minggu, kami akan memulai kembali kegiatan belajar disekolah. Dan itu juga berarti waktu kelulusan Yong Oppa semakin mendekat.

Ia mulai berkelakar bahwa akan melanjutkan study nya di Kanada –agar dekat dengan Shinhye tentunya, bahkan Yonghwa Oppa berniat untuk tidak lagi mengejar mimpinya sebagai seorang dokter, asalkan ayahnya mengijinkan ia untuk melanjutkan kuliahnya ke negeri paman sam tersebut.

Aku sampai tidak habis fikir, sebesar itukah cintanya pada Shinhye. Sampai ia rela melepaskan mimpinya begitu saja.

Mengingat hal itu mood ku langsung berubah, entah kenapa aku kesal setengah mati, hidungku mungkin sudah mengeluarkan dengusan keras beberapa kali, untungnya hanya dinding putih kamar tidurku beserta perabotannya yang menjadi saksi aksi idiotku ini.

Hei, aku tidak cemburu.

Sekarang ia adalah kekasih sahabatku, aku tidak berhak memiliki perasaan untuknya lagi, bukan?

Sungguh, ini murni karena aku kesal dengan cara berpikir Yoong Oppa saat ini, sepertinya hanya dalam waktu satu bulan, Shinhye mampu mengubah tabiat dan jalan pikirnya sedemikian rupa. Bibirku sontak menyunggingkan senyum sinis.

 

Ah… aku merindukan seorang Jung Yonghwa yang dahulu.

.

.

.

“ Jadi kau dapat jadwal penerbangan jam berapa Hye-a” Yoona mulai menyeruput strawberry smoothies pesanannya. Yeah, kami bertiga hari ini jalan bersama disebuah pusat perbelanjaan. Shinhye akan pulang ke Kanada lusa, jadi kami berniat menemaninya berbelanja oleh-oleh dan beberapa pesanan ibunya.

 

“Jam 9 KST.” Sahutnya sambil memperhatikan ponsel pintarnya, kurasa ia sedang melihat tanda bukti booking pesawatnya. Sedetik kemudian ia mendongakan kepalanya memandangku dan Yoona bergantian. Senyumnya mengembang sempurna, aku menyipitkan kedua bola mataku, curiga dengan apa yang ia pikirkan saat ini, “Bagaimana kalau malam ini kita ke klub” celotehnya.

 

Huh, sudah kuduga.

Aku memutar kedua bola mataku malas, tapi Yoona terlihat begitu antusias. Aku benar-benar bingung, sebenarnya apasih yang menarik dari klub?!

 

Hanya sebuah ruangan besar dengan penerangan yang minim ,pengap karena penuh dengan asap rokok, penuh dengan kerumunan orang banyak yang gila dansa dan pria-pria hidung belang yang senang menggoda gadis cantik. Aku muak dengan tempat seperti itu, tapi sepertinya tidak dengan kedua sahabatku ini.

“Memangnya kau tahu dan pernah ke klub, Hye-a” mata Yoona berbinar menunjukkan betapa berminatnya ia dengan usul yang dicetuskan Shinhye baru saja. Yang ditanya tergelak, lalu mulai mengaduk-aduk cappucino miliknya.

 

“Yang benar saja.” Shinhye memutar kedua bola matanya mengejek kami, “Hei, kalian berdua! Ini Korea lho… daerah kekuasaan kalian, seharusnya…” Shinhye memberikan penekanan berlebih di akhir kalimatnya, “Aku dan Yonghwa sudah tiga kali pergi bersama ke klub, Hyunnie tahu kok. Aku lupa saja bercerita padamu. Berhentilah jadi siswa teladan yang apatis dengan perkembangan jaman, masa muda itu hanya sekali kawan” aku masih diam saja mendengarkan semua celotehan Shinhye.

 

Entahlah, aku hanya malas menanggapinya. Kulirik Yoona sekilas, ia hanya mengangguk-angguk setuju dengan ucapan Shinhye, akupun hanya bisa menghela nafas.

 

“Baiklah!” tepukan tangan Yoona secara tiba-tiba mengagetkanku dan Shinhye, untung saja ia tidak memuntahkan cappucino yang sedang diseruputnya, “Jadi nanti malam kita akan berkumpul dimana dan jam berapa?” lanjut Yoona sambil memandangku dan Shinhye bergantian. Aku tidak menunjukkan ketertarikkanku, dan hanya mencoba mengotak-atik ponselku random.

 

“Bagaimana kalau jam 11? Aku akan beritahu Yonghwa, kau akan ikut dengan kami kan Hyun?” Shinhye menajamkan tatapannya padaku, aku menggelengkan kepala,

“Kau bukan sahabatku kalau begitu. Aku belum tentu berkunjung ke korea tiap tahun Hyun, dan kau mau menyia-nyiakan waktu kita bersama sebelum aku pulang? Kau kan tahu, waktu main kita kali ini berkurang karena aku juga harus memberi waktu pada yonghwa.” Aku mengedikkan bahuku, Shinhye merubah air wajahnya. Ia menatapku seolah memohon, Yoona ikut-ikutan memberondongiku dengan tatapan ‘maut’ alanya.

 

“Ya… yaa… yaaa… terserah kalian saja.” Dan akupun menyerah. Kedua sahabatku tersenyum senang, dan ber-high five tanda keberhasilan mereka membujukku.

 

“Baiklah aku akan menghubungi Seunggi oppa, untuk memberitahunya” ujar Yoona sambil merogoh tas kulitnya untuk mengambil ponselnya masih dengan mata berbinar-binar.

Shinhye menatapku intens, tapi aku tidak mengerti arti dari tatapannya.

 

“Kenapa kau melihatku seperti itu, huh?” ia mengambil ponselku diatas meja dan menyodorkannya ke hadapanku. Aku mengerutkan kening masih tidak mengerti apa maksudnya, “Apa apa?” tanyaku, Shinhye mendengus kesal.

“Kau tidak menghubungi Yunho? mengajaknya pergi bersama kita nanti malam.”

“Tidak” ujarku datar dan dingin.

“Kenapa? Kau butuh teman Hyun, Yoona akan bersama Seunggi, Yonghwa denganku. Kupikir lebih baik kau mengajaknya.”

Aku menatap jengah Shinhye.

“Hye-a, bukankah tadi kau bilang ini waktu untuk ‘kita’ sebelum kau pulang?” aku menaikan salah satu alisku, “Aku tidak melarang kalian untuk membawa pasangan, sungguh. Toh mereka juga teman-temanku. Tapi tolong, jangan terus-terusan menyangkut pautkan aku dan Yunho. Kalau kubilang aku tidak mau, tolong hargai.”

“Tapi Hyunnie ka-“

“Aku akan pergi dengan kemauanku. Kalau kau memaksanya untuk ikut, lebih baik aku dirumah saja” aku menyeruput tetes-tetes terakhir caramel machiatto ku dan akhirnya Shinhye tidak kembali membantah setelah ucapan yang baru saja kulontarkan.

 

-o0o-

 

 

Kalau saja aku tidak menyayangi kedua wanita cantik yang sejak tadi berada dilantai dansa, menggerakkan tubuh mereka sesuai dengan irama musik –yang untuk seleraku sih terlalu gaduh-, yang ada dalam ruangan ini, aku pasti sudah beranjak pergi, sejauh-jauhnya.

 

Nyatanya aku tetap bertahan di sofa panjang maroon yang terdapat disalah satu sisi ruangan klub, tempatku berada saat ini. Sesekali Yoona dan Shinhye menoleh kearahku, mungkin memastikan bahwa aku tidak melarikan diri dari tempat ini, entahlah.

 

Dan dari sekian kali tatapan mereka, mereka selalu memberikanku isyarat untuk turun ke lantai dansa. Aku hanya mampu menggelengkan kepala lemah sambil tersenyum. Tapi kemudian Shinhye menghampiriku, dan menyambar gelas berisi cola yang sedari tadi kunikmati, seraya duduk di bangku kecil yang berada dihadapan sofa maroon tempatku duduk.

“Yakin, gak mau turun?” aku masih bersikukuh menggeleng, “Kan sayang udah disini Hyun, ayolah.” aku tidak bisa mendengar dengan jelas kata-kata Shinhye karena kebisingan di tempat ini. Tapi yang kutangkap ia sedang mencoba merayuku untuk ikut berdansa dengan mereka.

“Kalian sajalah, aku bisa liat dari sini. “ volume suaraku sedikit kukeraskan agar Shinhye mendengar dan ia mengerucutkan bibirnya tanda mengerti apa yang kuucapkan.

“Oh iya, aku pinjam ponselmu hyun…” ujarnya kemudian.

“untuk apa?”

“Aku lupa membalas pesan temanku, ponselku ternyata tertinggal di mobil Yonghwa”  lalu aku memberikan ponselku kepada Shinhye, setelah itu kembali menuangkan cola ke gelas yang tadi kupakai untuk minum. Kalau dipikir-pikir, bisa-bisa pulang nanti aku muntah karena kebanyakan minum cola.

Thank you dear” ucapnya seraya mengembalikan ponselku, “aku balik kesana ya…”  akupun hanya mengangguk.

10 menit.

15 menit.

25 menit.

Aku sudah memainkan beberapa games yang ada di ponsel pintarku –yang baru kusadar ternyata cukup menarik, membuka beberapa foto yang tersimpan di ponselku ku. Sial, tetap saja aku tidak bisa menghindari perasaan ini.

Aku bosan.

Aku meniup-niup helaian rambutku yang tersampir dipermukaan wajahku, tanpa ada alasan tertentu. Aku memainkan buku-buku jariku. Aku melirik sekilas ke tempat orang berkumpul dan berdansa. Mereka berempat sudah tidak tertangkap oleh iris mataku.

Akupun hanya menghela nafas pendek, sampai seorang pria berbadan tinggi yang lewat dihadapanku mengganggu atensiku. Ia menatapku dengan tatapan yang, ah entahlah aku tidak suka saja melihatnya. Jelas sekali ia sedang menggodaku.

Aku membuang pandanganku berusaha untuk menghindari tatapannya. Ia masih saya memandangiku dengan senyum yang menjijikan, sumpah perutku rasanya sekarang benar-benar mual.

Astaga dia mulai mendekatiku, tentu saja aku mulai panik. Tanpa sadar kuketuk-ketukan sepatuku pada lantai ini. Sambil menatap sekeliling sekilas berharap seseorang – yong oppa, shinhye, yoona, ataupun seunggi oppa, datang menghampiriku.

“Sendiri saja, nona?” damn, ia mencoba untuk memulai percakapan denganku. Aku hanya menatapnya sekilas dan mengangguk. Ia menjejakan beberapa langkah kakinya semakin mendekati meja yang berhadapan dengan sofa tempatku berada. Tidak sampai disitu, ternyata ia mengincar tempat yang lebih dekat denganku.

Tuhan tolong aku.

Aku menggigit bibir bawahku, dan masih berusaha membuang muka saat ia sudah hampir mengambil tempat, duduk disampingku.

 

“Bisa kau pergi dari tempatku tuan” baritone suara pria yang begitu kukenal menginterupsi. Terimakasih Tuhan, Yoong Oppa tiba-tiba saja sudah berada dibelakang pria tidak dikenal yang sedikit membuatku takut dan panik saat ini.

Si pria menoleh dan menatap Yoong Oppa, ia mengangkat salah satu alisnya dan tersenyum sekilas.

“Sepertinya saya tidak mengenal anda. Jadi bisakah anda pergi dari tempat ini dan mencari meja yang lain? Ini sudah menjadi meja kami sejak tadi.” Yoong Oppa memberikan senyumnya, jelas bukan senyum ramah. Justru malah mengarah ke senyum mengancam dan penuh penekanan, jujur saja aku takut bahwa ini akan membuahkan suatu masalah.

Namun untungnya, pria itu pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa. Aku menghela nafas lega. Yoong Oppa duduk tepat disampingku.

“Itulah sebabnya, akan lebih baik kalau kau ikut kami berdansa” ucapnya tiba-tiba tanpa menatapku. Aku melirik sekilas, dan mengambil gelas berisi cola milikku diatas meja.

“Kurasa akan lebih baik lagi jika aku tidak ikut kalian kemari. Kupikir itu pemikiran yang lebih logis dan bijaksana” ucapku tanpa memandangnya.

Aigoo…” Yong Oppa mengacak-acak rambutku seperti biasa. Namun karena beberapa waktu belakangan ini kuakui kami jarang sekali punya waktu bersama, aku sedikit kaget menerima perlakuan ini darinya.

 

Ritme jantungku kembali bergerak dengan liar, perasaanku masih sama. Itu pasti. Dan sekarang aku bersyukur karena penerangan ditempat ini sungguh temaram, sehingga Yoong oppa pasti tidak bisa melihat perubahan raut wajahku dengan jelas saat ini.

 

“Terus kenapa kau mau ikut, kalau memang merasa tidak nyaman Hyunnie?”

“Aku tidak mungkin menolak permintaan Shinhye yang lusa sudah akan kembali ke Kanada, kan?” mendengar ucapanku, raut wajah Yoong Oppa berubah sendu. Ia mengangguk-anggukan kepalanya sambil meminum liqueurs – salah satu minuman keras- pesanannya.

“Ahhh iya, lusa kekasihku akan kembali ke Kanada.” ujarnya sambil memandang dan memainkan wine glass yang ada ditangannya. Entah kenapa aku lebih tertarik dengar gelas yang dimainkan Yong Oppa itu beserta isinya. Aku memandang benda itu dengan tatapan seolah-olah benda itu begitu ‘menggenaskan’ dan Yoong oppa melihatnya, ia tergelak sekilas.

“Kau mau ini?” aku sontak menggelengkan kepalaku dengan cepat.

“Jangan minum terlalu banyak Oppa, nanti kau harus menyetir” ia tersenyum. Dan mencubit pangkal hidungku “Baiklah,Nona Seo. Ini akan menjadi gelas terakhirku malam ini.”

Aku masih menatapnya lamat-lamat. Masih ada raut wajah sedih dan khawatir bercampur jadi satu. Aku sungguh mengerti alasan dibalik wajah itu. Sebentar lagi Shinhye akan pulang ke Kanada, dan pasti Yoong Oppa akan merindukan kekasihnya yang baru  bersamanya selama satu bulan belakangan ini.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?”

Ani… aku hanya- Eum, aku mengerti perasaanmu oppa…” aku tersenyum, ia merebahkan tubuhnya ke dinding sofa, dan melipat kedua tangannya didepan dada.

“Apakah menurutmu akan baik-baik saja?” tanyanya kemudian.

“Tergantung.” Ia mengerutkan keningnya dan menatapku seolah kata-kataku makin mengganggu pikirannya, “Tergantung seberapa besar usaha kalian satu sama lain untuk memegang teguh komitmen yang sudah kalian buat Oppa. Selama kalian berjauhan nanti maksudku, bukankah itu jelas?”

Ia kembali menegakkan posisi duduknya, dan menyampirkan helaian rambut hitamnya dibagian depan yang mulai memanjang. Sungguh dengan rambut seperti ini, Yoong oppa semakin terlihat tampan dimataku.

 

Astaga, apa yang sudah kepalaku pikirkan baru saja. Kalau saja Yoong oppa tidak berada tepat disampingku aku pasti sudah memukul-mukul kepalaku dengan membabi buta, agar tidak berpikiran macam-macam seperti yang baru saja kulakukan.

“Aku sedikit takut Hyun. Aku tidak punya pengalaman apapun dalam hubungan percintaan, lalu harus menghadapi hubungan LDR” aku hanya bisa tersenyum dan menepuk-nepuk ringan pundaknya, “I know what you mean, oppa

 

“Yoonggg… kau lama sekali disini.” Shinhye datang, aku menarik perlahan telapak tangan kananku yang masih berada di pundak Yoong Oppa. Sesaat kemudian Shinhye menarik kedua tangan Yong Oppa, memaksanya untuk beranjak dari tempat duduknya.

“Seohyun sendiri disini. Lebih baik kita temani dia saja disini, tadi saja ada pria yang mau mengganggunya” Yonghwa Oppa menolak ajakan Shinhye. Shinhye terlihat sedikit kesal, lalu berbalik menatapku.

“Siapa pria kurang ajar yang berani mengganggumu, Hyun?”

“Ah, sudahlah. Dia langsung pergi tanpa cari masalah kok setelah Yong oppa datang.” aku terdiam sejenak, “Hye-a… bolehkah aku pulang saja? Aku benar-benar merasa tidak nyaman disini.” Shinhye mengerucutkan bibirnya dan menghampiriku,

“Ayolah Hyun… sebentar lagi. Eomma dan Appamu kan tahunya kau menginap dirumah Yoona. Sebentar lagi, sekali ini saja.” Aku baru saja akan membantah, tapi sungguh tiba-tiba saja perutku terasa bergejolak.

“Aku ke toilet dulu..” tanpa mendengar celotehan lebih lanjut dari Shinhye, aku bergegas mencari kamar kecil.

.

.

Untunglah tidak ada masalah berlebih dengan perutku. Hanya karena terlalu banyak minum cola, sepertinya. Aku bergerak keluar dari bilik toilet menuju wastafel. Kucuci mukaku beberapa kali dengan air. Setidaknya dingin air ini sedikit membuat wajahku segar dibanding dengan udara berisi asap rokok yang sedari tadi kutempati. Walau bagaimanapun aku harus mencari cara agar bisa cepat pulang.

.

Aku berjalan menerobos kerumunan orang yang ada disekitarku, mencoba kembali ke meja tempatku sedari tadi menghabiskan waktu diruangan yang bising dan temaram ini. Masih berjuang dengan kerumunan orang aku sudah bisa melihat sofa maroon itu, masih ada Yoong Oppa dan Shinhye disana. Tunggu dulu. Apa yang mereka berdua lakukan. Aku memicingkan mata berusaha melihat dengan jelas. Kemudian tanpa sadar bola mataku membesar seketika.

Mereka berciuman.

 

Ciuman dalam arti orang dewasa, Shinhye terlihat mengalungkan kedua tangannya dileher Yoong Oppa, mereka terlihat begitu intim. Aku membalikkan badanku dengan cepat, wajahku terasa panas. Dan aku yakit lapisan kristal bening yang ada dimataku akan jatuh sebentar lagi. Aku harus pergi dari sini secepatnya, mereka tidak boleh menyadari kehadiranku.

.

Aku bergegas, belum sampai pintu keluar klub airmataku sudah tumpah dengan sempurna. Aku menoleh mencari tempat untuk sementara mengasingkan diri. Aku butuh menenangkan diriku. Dan aku memilih bangku kayu panjang yang berada disekitar trotoar jalan tidak jauh dari gedung klub yang kami kunjungi.

 

Aku duduk dan menangis terisak dibangku itu, aku bersyukur suasana jalan sudah mulai menyepi. Tapi jikalau ramaipun, aku pasti akan mengabaikan mereka.

 

Untuk kali ini aku tidak bisa berbohong, ada ruang dihatiku yang begitu perih dan sakit melihat pemandangan antara Yoong Oppa dan Shinhye didalam sana. Itu kejadian wajar, mengingat mereka adalah sepasang kekasih. Yang salah adalah kehadiranku, disaat aku belum bisa membereskan masalah perasaanku sendiri pada pria yang saat ini sudah menjadi kekasih sahabatku itu.

Aku merasa sakit dan jahat disaat bersamaan. Yonghwa dan Shinhye saling mencintai, itu jelas. Lalu aku ini apa? Untuk Yong oppa, jelas aku adalah adik kecil yang begitu dikasihinya. Untuk Shinhye jelas aku adalah sahabatnya dari kecil.

Lantas aku sendiri?

Apa pantas aku menyebut Shinhye sahabatku, disaat aku masih secara diam-diam menyimpan perasaanku pada kekasihnya.

Pada Yoong Oppa, apa sungguh tidak keterlaluan memikirkan, merindukan dan masih menyimpan dalam-dalam perasaanku padanya.

Aku menepuk-nepuk dadaku dengan keras, masih berurai airmata. Aku benar-benar tidak bisa mengatur emosiku saat ini.

.

.

Aku menatap layar ponselku, ada pesan dari Yoona menanyakan keberadaanku. Aku sudah sedikit tenang. Airmataku sudah berhenti mengalir. Kuharap Yoona tidak melihat apa yang kulihat tadi. Karena aku bertaruh Yoona pasti akan dengan panik mencariku kesana-kemari kalau tahu apa yang kulihat beberapa waktu yang lalu.

Aku beranjak dari bangku kayu ini, dan menarik nafas panjang. Aku harus sedikit membereskan wajahku yang berantakan karena menangis tadi. Kuharap mereka tidak ada yang menyadari bahwa aku baru saja menangis.

.

.

Saat Seohyun masuk kembali ke dalam ruangan, Yoona, Shinhye, Seunggi Oppa dan Yonghwa Oppa sudah berkumpul di meja mereka. Tapi ada lagi satu pria yang berada ditengah-tengah mereka. Seohyun bisa melihat dengan jelas kenampakan wajah dan tubuh pria itu dari samping. Ternyata pria itu adalah Yunho.

“Kau darimana saja, huh? Mencari pria lain, saat ada pria tampan yang setia menunggumu?” Shinhye langsung memberondongi Seohyun dengan celotehannya. Seohyun hanya mendengus.

Yunho beranjak dari tempatnya duduk dan memberikan Seohyun tempat duduk yang lebih nyaman untuknya. Seohyun hanya tersenyum canggung, lalu memandang Yunho dengan tatapan heran.

“Mengapa kau ada disini?” ujarnya kemudian, Yunho hanya tersenyum dan mengerutkan alisnya ke arah Seohyun. Seolah-olah bingung dengan pertanyaan yang Seohyun lontarkan.

“Yasudahlah Hyun… mungkin kalian jodoh, sampai di Klub pun Yunho bisa menemukan keberadaanmu hahaha” potong Shinhye, sambil memberikan kedipan mata penuh arti kepada Yunho.

Yunho hanya tersenyum sambil tertunduk sekilas melihatnya. Ia kemudian memandang Seohyun kembali dengan tatapan teduh dan hangatnya.

“Akan lebih baik jika ada teman yang bersamamu saat yang lainnya sibuk dengan aktivitas masing-masing, kan Hyun?” Yunho masih memandangnya, “Untuk itulah aku disini, jika kau tidak keberatan.” Yoona dan Seunggi berdehem menggoda, Shinhye tersenyum, senang merasa kalau ‘pekerjaan’ kecilnya membuahkan hasil. Yonghwa melirik Seohyun dan Yunho sekilas secara bergantian, lalu kembali minum whisky milik Shinhye. Shinhye melirik dan mengerutkan keningnya sekilas melihat kelakuan kekasihnya. Namun, ia tidak mengambil pusing untuk hal tersebut.

 

-o0o-

 

Liburan musim panas memang sudah berakhir, tetapi pergerakan cuaca masih menyiratkan bahwa hari ini masih dalam rangkaian hari-hari dengan sinar mentari yang melimpah. Aku berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke sekolah. Karena hari masih pagi, jadi aku hanya menjejakan kakiku dengan langkah-langkah kecil. Kedua tanganku meremas-remas tali ransel yang bergantung dipunggungku. Sudah dua hari sejak kembalinya Shinhye ke Kanada. Itu artinya, Yoong Oppa akan’sendiri’ lagi.

 

Aku yakin Yoong Oppa akan bersikap biasa padaku, terlebih sekarang ia tidak bisa pergi dengan Shinhye secara leluasa, yang kukhawatirkan justru diriku, hatiku, dan perasaanku sendiri. Bahkan cerahnya hari ini tidak membantu suasana hatiku gar menjadi lebih baik, aku terlalu mengkhawatirkan banyak hal.

Bukk

Seseorang menabrakku kemudian merangkul pundakku tanpa izin, sontak aku mendelik.Ternyata Yoong Oppa yang melakukannya, mendapat tatapan galak dariku ia malah memberikan cengiran lebar alanya. Alih-alih mendengus kesal, sesungguhnya aku berusaha mengatur nafas dan deguban jantungku yang berdetak liar dengan jarak sedekat ini.

Seperti nya sudah lama aku tidak berinteraksi sedekat ini dengannya.

“Pagi-pagi  sudah mendengus dan kesal, nanti jauh jodoh lho!” ujarnya, aku mengerucutkan bibirku dan menyilangkan kedua tanganku bersikap seakan aku mengacuhkannya. Yoong oppa melepaskan rangkulannya, entah mengapa aku merasa sedikit kecewa karenanya. Ia menatap sekeliling,

“Kau tidak diantar Sangwoo hyung?” aku menelengkan kepala, “Tumben. Jadi kau naik bus?” mendengar celotehannya yang cukup panjang, ia terlihat seperti Yonghwa yang ‘biasa’, maksudku seorang Jung Yonghwa sebelum berpacaran dengan Park Shinhye.

“Tidak oppa, aku sedang ingin naik bus… Aku sedang ingin jalan-jalan”

Ia melebarkan bola matanya, dan tersenyum lebar memandangku. Aku melihatnya dan sesekali menunduk sambil melihat buku-buku jalan setapak yang kupijaki. Beberapa helaian dedaunan bertebaran disana, walaupun tidak sebanyak saat musim gugur.

“Kalau begitu, bagaimana kalau pulang sekolah nanti kita jalan-jalan? Aku akan mentraktirmu es krim.” Aku mengerjap-ngerjapkan mataku.

Aku berfikir, kalau kutolak nanti aku terlihat menghindar, kalau kuterima nanti- , ah sudahlah.

Aku memutuskan menganggukkan kepalaku seraya tersenyum sebagai jawaban. Lalu kamipun berjalan beriringan bersama menuju sekolah.

Aku tersenyum bahagia, aku merindukan moment seperti ini. Saat-saat ketika hanya ada aku dan Jung Yonghwa.

.

.

.

Seperti yang dijanjikannya, disinilah kami berdua –aku dan Yong oppa, kedai es krim favorit kami. Suasana disini sangat nyaman walaupun hanya dengan ornamen sederhana yang menghiasi interior kedai ini, nyatanya tidak memengaruhi intensitas pengunjung yang datang, mungkin karena citarasa yang mengagumkan, karena itulah kedai es krim ini tidak pernah sepi.

 

Seperti saat ini, kami belum menemukan meja untuk duduk menikmati es krim nanti, jadi Yoong Oppa memilih untuk mengantri dikasir terlebih dahulu, sementara aku berdiri disampingnya sambil melayangkan pandanganku ke seluruh isi ruangan ini, berharap ada salah satu meja yang akan ditinggalkan penghuninya saat ini.

Bingo.

 

Dua orang perempuan berseragam sekolah –namun berbeda dengan seragamku, meninggalkan meja mungil yang hanya dapat ditempati oleh dua orang diujung ruangan dan bersebelahan dengan jendela besar yang terdapat diruangan ini. aku segera melesat cepat menuju meja tersebut, kalau-kalau saja ada orang lain yang akan menempatinya. Yoong Oppa sekilas menatapku, dan aku memberikannya isyarat untuk menuju meja tersebut sementara ia masih mengantri didepan stand kasir.

“Kau cekatan sekali ya…” katanya kemudian, setelah tiba dengan membawa dua mangkuk pesanan es krim yang akan menjadi kudapan kami.

“Iya dong, Seo Joo Hyun” aku membanggakan diri sendiri saat ia memberikan mangkuk es krim dihadapanku, “Gumawo”ujarku kemudian.

Kami menikmati es krim masing-masing sambil bercakap-cakap ringan, aku seringkali mencuri pandang menatap pria yang telah lama mengisi relung hatiku selama ini. Dan untungnya ia tidak menyadari,

“Oh ya, Hyun” astaga ia menatapku, karena panik, takut ia menangkap basah manik ku yang sedari tadi memandangnya, aku menunduk cepat dan mengaduk-aduk mangkuk es krimku dan menyuapkannya ke dalam mulutku yang tidak begitu besar, berpolah seakan tidak terjadi apa-apa.

“Hmmm…” jawabku,

“Bagaimana hubunganmu dengan Yunho?” bola mataku membulat sempurna, tak pelak es krim yang masih kunikmati saat ini kusesap lamat-lamat sambil mencerna maksud pertanyaan yang dilontarkan Yoong Oppa.

“Aku? Yunho?” aku membuka suara saat es krim dimulutku habis sempurna, pria ini mengangguk mendengar pertanyaanku, “Hubungan bagaimana? Dia teman yang cukup baik.” Ujarku kemudian.

Yoong oppa melipat kedua tangannya lalu menumpukkan kedua siku tersebut diatas meja. Posisi tersebut membuatnya beberapa senti lebih dekat menatapku.

“Kau tidak memiliki perasaan spesial padanya?” ucapnya berusaha menyelidik, “Kulihat dia baik sekali loh padamu, la-“

“Aku tahu. Hanya saja aku menganggapnya sebatas teman layaknya chanyeol dan minhyuk. Tidak lebih.” Aku terpaksa memotong kalimat Yoong oppa, sebenarnya aku ingin menikmati waktu bersama kami –yang telah banyak berkurang, seperti saat ini.

Dan walaupun memang Yunho terlampau baik hati padaku, tapi aku memang tidak memiliki perasaan apapun padanya.

“Tidak memiliki perasaan lebih, atau belum memiliki perasaan lebih?” aku memutar bola mataku malas, aku menatap balik manik cokelat yang selama ini begitu kukagumi itu.

“Masih belum puas bertanya? Kau kan bukan detektif oppa, dan aku bukan tersangka yang harus ditanya terus menerus.”  aku sedikit menaikkan volume suaraku. Sehingga beberapa pasang mata yang berada dekat dengan meja kami, menatap sambil berbisik-bisik sekilas. Mungkin dikiranya kami adalah pasangan kekasih yang sedang bertengkar, aku tidak peduli.

 

“Wow, wow,wow… Tenang Hyun, aku hanya bertanya kok. Jangan sensitif begitulah.” Yong Oppa tertawa dan beranjak sedikit dari tempatnya duduk, Ia terlihat ingin mencubit batang hidungku seperti biasa. Tapi aku memalingkan wajahku, mengelak.

Ia terlihat sedikit kaget, menghela nafas singkat, raut wajahnya berubah sedikit sendu, lalu ia kembali duduk ke tempatnya.

“Justru, sifat defensifmu yang seperti itu kalau berbicara tentang Yunho, membuatmu terlihat memang memiliki ‘sesuatu’ yang lain terhadapnya. Lagipula kau terlihat senang kok kalau berada disekitarnya” Yoong oppa melemparkan pandangannya ke jendela café  memperlihatkan suasana jalan raya yang penuh dengan hilir mudik kendaraan bermotor. Pandangannya kosong menerawang akan sesuatu, apa aku menyinggung perasaannya dengan sikapku tadi. Baru saja aku bermaksud untuk membuka mulutku untuk berbicara, suara getar ponselnya diatas meja menyita atensi kami berdua.

 

Video call dari Shinhye.

 

“Yong kenapa kau tidak menghubungiku?” ucap Shinhye dari seberang sana,

“Mian, aku sedang bersama dengan Seohyun menyantap es krim, kau mau?” senyum mengembang dari bibir Yong oppa.

Ah, mood nya sudah kembali membaik.

Lalu ia membalikkan layar ponselnya sehingga aku dapat saling bertatap dengan Shinhye, aku sontak melambaikan tangan dan tersenyum, pada sahabatku ini.

Hyunnie… ahh baru dua hari, tapi rasanya aku sudah rindu sekali dengan korea.” Ujarnya dengan mata berbinar-binar.

“Kau rindu karena meninggalkan kekasih disini, eoh? Dulu bahkan kau bisa tidak mengunjungi dua sahabatmu selama lebih dari dua tahun, cih” aku berusaha merajuk, wanita cantik diseberang sana yang tidak lain adalah sahabatku tergelak.

Bukan begitu, hanya saja karena ada Yonghwa, sensor rasa rinduku semakin besar ke Korea. Hehehe, oh iya mana kekasihku?” dan Yong oppa pun  kembali bercakap-cakap dengannya melalui ponsel tersebut.

Aku menghela nafas dalam, namun memperhalus suaranya agar tidak terlihat oleh Yoong oppa. Aku menunduk, dan tersenyum getir. Ternyata sekarang memang benar-benar sudah berbeda bukan?

Shinhye tidak benar-benar pergi Hyun, ia akan selalu berada disekitar Yonghwa walaupun hanya lewat dunia maya. Dan kau tidak bisa mendapatkan waktu-waktu yang ‘sama’ seperti dulu bersama Yonghwa.

Aku merutuki diriku sendiri.

Kau bodoh Hyun.

Sangat bodoh.

 

Ahh, ternyata aku benar-benar merindukan ‘Jung Yonghwa’.

 

TBC

Hai dreamers…

Please Kindly to review then… Thank You

withlove,

thanasa

Advertisements

Author:

I am a ordinary girl, who love Do Kyungsoo damn much... -You may know My Name, But You don't really know Who I am- (:

2 thoughts on “My Answer (Chap. VIII)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s