Posted in Angst, Do Kyungsoo, EXO, Hurt, PG-17, Red Velvet, Romance, Son Wendy, Twoshot

They Never Know #2-END

cropped-they-never-know-copy.jpg

Story by thanasa

they never know

Do Kyungsoo [EXO], Wendy Son [Red Velvet] | Twoshot

| Romance, Angst, Hurt |PG 17+ | General

Aku laut, Engkau langit. Manusia mengira kita bertemu di cakrawala, pedahal tidak begitu adanya.

 

Disclaimer   : Story is absolutely mine. The entire casting is the property of their respective agencies, I just have a plot. This is not perpect story and there’s typo everywhere hehehe. Hope you’ll be enjoy while reading this. DON’T FORGET to RCL and DON’T BE A PLAGIATOR. Gamsahamnida :*…

 

-o0o-

 

 

Aku tidak membenci laut ataupun samudra. Tapi sungguh aku tidak menyukai dermaga. Karena saat aku dan Kyungsoo berada di dermaga, itu artinya kami harus berpisah kembali. Dan aku benci itu. Mataku berkaca-kaca – seperti tujuh bulan lalu saat pertama kali aku harus berpisah dengan Kyungsoo-, dibalas dengan senyuman menenangkan Kyungsoo sebelum ia memelukku erat. Kami sudah berjanji untuk menjadi lebih kuat apalagi mengingat pelayaran Kyungsoo kali ini akan berjalan sekitar sepuluh bulan.

 

Hatiku jelas sakit membayangkan kembali berpisah dengan pria pendek dengan senyuman malaikatnya yang selalu berhasil membuatku merasa tenang dan nyaman.

 

Mengapa wajahmu seperti itu? Bukankah sudah kubilang, secepatnya aku akan kembali.

Apakah sepuluh bulan adalah waktu tercepat yang bisa kau janjikan padaku?” aku menatap wajahnya nanar, Kyungsoo terlihat memijit dahinya dan memejamkan mata,

 

Kupikir kau sudah tahu dan mengerti resiko menjadi kekasihku Wendy-ah. Haruskah kita bertengkar saat ini?” ia menatapku begitu dalam, sorot matanya menyiratkan ketegasan. Dan itu malah membuat airmataku jatuh lebih cepat tanpa mampu kutahan, “Sebentar lagi aku akan berangkat, dan kuharap kau tidak merasa khawatir berlebihan. Aku akan melakukan segala sesuatu yang terbaik, untuk mempertahankan hubungan ini. Kau percaya padaku kan?” ingin rasanya aku menolak janji manis darinya yang pasti akan banyak menyiksaku nanti. Menunggu enam bulan saja kemarin aku benar-benar terseok-seok.

 

Apalagi selama kurang lebih tiga minggu ini aku sudah terbiasa dengan kehadiran Kyungsoo disekitarku. Untuk tidak melihatnya selama sepuluh bulan kudepan, rasanya seperti menghadapi sebuah bencana bagiku.

 

Tetapi tatapan itu membuatku patuh untuk menganggukkan kepalaku lemah, aku sadar segala kekhawatiranku ini timbul karena aku sudah jatuh begitu dalam pada pesona seorang Do Kyungsoo. Dan aku tidak bisa membohongi diri sendiri, berpisah dengannya sekarang menjadi momok yang begitu kutakutkan.

 

Aku tidak akan meninggalkanmu. Percayalah, aku akan kembali.

.

.

 

Kehidupanku biasa saja, terlebih setelah Kyungsoo kembali berangkat berlayar. Dan tidak terasa ini sudah bulan kelima, sejak kami berpisah akhir januari silam.

 

Aku masih sibuk dengan berbagai pekerjaanku, dan kami hanya berkomunikasi lewat telepon atau video call. Aku melirik kaca besar yang membentang disepanjang utara ruangan kantorku. Warna jingga tergurat indah diselingi oleh abu-abu gelap, ah hari sudah senja rupanya. Aku berhenti sejenak dari kegiatanku, memainkan pensil yang berada digenggamanku sambil memandang lamat-lamat pemandangan senja, yang membuatku mengingat potongan-potongan grafis kebersamaanku dengan Kyungsoo saat kami pertama kali saling mengenal dan memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.

 

Tidak ada satu haripun kulewati tanpa merindukannya. Ya, merindukan Do Kyungsoo.

.

.

Samudra Atlantik, Royal Carribean, Quantum of the Seas – 13 Juni 2011

 

Sudah hampir satu tahun sejak aku dan Wendy memutuskan menjadi sepasang kekasih. Dan saat ini tepat senja ke 147 setelah aku meninggalkannya untuk kembali berlayar, menjalani tugas sebagai pelaut terlebih di kapal komersil seperti kapal pesiar memang memiliki jangka berlayar yang cukup panjang. Aku sadar Wendy pasti sangatlah menderita menjalani hubungan seperti ini. Tidak jauh beda, sekarang akupun meniti hariku dengan perasaan rindu yang menyiksa. Dulu aku kerap mengolok-olok rekan kerjaku seperti Kim Jongdae dan Byun Baekhyun yang  menjadi ‘aneh’ saat merindukan kekasih mereka.

 

Apalagi saat melihat Baekhyun yang beberapa bulan lalu baru saja menikah, dan harus meninggalkan istrinya untuk kembali berlayar bahkan disaat umur pernikahan mereka belum genap dua bulan. Setelah kupikir-pikir resiko pekerjaan sebagai pelaut ternyata cukup mengerikan dan menyiksa hati juga.

 

Sebelum mengenal Wendy, meniti karir sebagai pelaut yang sukses menjadi tujuan utamaku. Tapi sekarang, entah mengapa akupun memikirkan beberapa hal terkait dengan kelangsungan hubunganku dengan Wendy, bagaimana perasaannya, dan juga bagaimana perasaan rinduku yang terkadang sulit untuk kubendung.

 

Jika suatu saat aku akan melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius dengannya, rasanya tidak tega jika harus meninggalkannya berbulan-bulan, ditambah lagi melihat sorot mata kesedihan dan airmatanya yang kerap menjadi ‘salam’ perpisahan kami.

 

Aku menarik nafas dan menghelanya dengan kasar, aku benar-benar merindukan wanita cantik dengan pipi tembamnya yang sangat menggemaskan itu.

 

Wah, Do Kyungsoo sekarang sudah bergabung menjadi trio pelaut dimabuk cinta dengan Baekhyun dan Jongdae.” Aku melirik pria tinggi dengan hidung dan telinga besar, yang kukenal sebagai salah satu rekan kerjaku tiga tahun belakangan ini.

 

Jangan banyak omong kalau belum pernah merasakannya secara langsung.” Yang kuajak bicara malah terbahak,

 

Pelaut terjebak cinta naif seperti itusih namanya cari perkara. Aku heran kalian betah menyiksa diri dengan satu orang wanita seperti itu.

 

Terserah kau saja bignose, kau dan kami kan berbeda. Lagipula, dari dulu aku tidak suka bergonta-ganti wanita sepertimu, kau tahu itu.” Ia mencibir penyataanku baru saja, menenggak wisky kesukaannya sambil menatap deburan ombak yang berbentur dengan baja kapal tempat kami berpijak.

 

Jadi bisa kau ceritakan siapa wanita ‘menakjubkan’ yang mampu mengambil seluruh hati temanku yang sangat kaku ini?” aku tersenyum simpul, mendengarnya membahas tentang seorang grafis. Memoriku tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Son Wendy berkelebatan sempurna dalam kepalaku,

 

Baiklah. Tapi jangan coba-coba untuk tertarik padanya! Son Wendy itu gadisku, dan hanya boleh menjadi milikku.

.

.

Kyungsoo benar-benar keterlaluan, ia sudah berjanji akan selalu menjalin komunikasi dengan baik. Tapi apa ini? sudah hampir seminggu ia tidak menghubungiku. Ponselnya pun tidak dapat dihubungi, ia benar-benar membuatku kesal. Sedikit banyak konsentrasiku pada pekerjaan menjadi terganggu.

 

Astaga. Aku benar-benar khawatir padanya, mengapa ia tidak menghubungiku. Aku berjalan kesana-kemari di rooftop kantorku. Walaupun terik sinar matahari menerpaku, aku tidak merasa kepanasan sedikitpun, karena saat ini suasana hatiku jauh lebih panas daripada sinarnya.

.

.

Saat aku terbangun, seorang perawat wanita berada disisi ranjangku, bersisian dengan Jongdae yang terlihat panik. Aku memejamkan mata dan berusaha mengingat kejadian terakhir sebelum tidak sadarkan diri, aku melihat selang yang mengalirkan cairan infus dilengan kiriku. Aku berusaha bangun dari tempat tidurku dibantu oleh Jongdae,

 

Syukurlah kau sudah sadar Kyungsoo, kau cukup lama tidak sadarkan diri. Aku benar-benar kaget kau melakukan hal senekat kemarin, kau bisa saja tewas kalau saja bignose tidak ada ditempat itu.” potongan-potongan grafis kejadian yang terjadi di kabin mesin beberapa hari lalu mulai terpeta jelas diingatanku, terakhir kali kuingat kepalaku terbentur pipa baja yang terdapat disana saat aku sedang membantu bignose memeriksa trouble di Engine Room setelah memastikan vigia* yang dilaporkan oleh Oh Sehun -salah satu crew, yang bertugas, “Tapi untungnya kau datang tepat waktu dan menyelesaikan permasalahan itu, Oh Sehun sudah mendapatkan peringatan karena kelalaiannya kemarin.

 

Mendengar penjelasan Jongdae tiba-tiba aku teringat sesuatu,

 

Wendy.

 

Aku belum menghubunginya sekalipun sejak kejadian yang membuatku tidak sadarkan diri ini,

 

Kau akan dibawa ke Rumah Sakit setelah kita tiba di port terdekat untuk memeriksa lebih lanjut benturan dikepalamu, mungkin di-

 

Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?

 

Eh?” Jongdae terlihat kaget mendengar pertanyaanku, “Umm, sudah enam hari kurasa, ke-

 

Dimana ponselku?” lagi-lagi aku memotong ucapannya, maafkan aku karena terkesan tidak tahu diri. Tapi kali ini keadaannya mendesak, aku harus menghubungi Wendy. Aku yakin ia sedang uring-uringan karena aku tidak menghubunginya, Jongdae mengedikkan bahu seraya bergumam rendah. Mungkin ia kesal karena merasa diabaikan olehku.

 

Maaf Jongdae-ah, aku harus menghubungi kekasihku. Ia pasti panik tidak mendapat kabar dariku selama beberapa hari ini.” Jongdae terlihat menatapku simpatik, dan ia berusaha menahan bahuku saat aku berusaha turun dari tempat tidur untuk mencari ponselku,

 

Kau tunggu disini saja, kepalamu belum benar-benar pulih. Aku akan mencari bignose dan menanyakan perihal ponselmu padanya, oke?” akupun mengangguk menuruti ide yang diberikan Jongdae.

.

Setelah menunggu beberapa saat, Jongdae kembali ke bilik perawatan tempatku berbaring bersama dengan Bignose. Aku menegakkan posisi duduk ku, Bignose menyodorkan ponselku.

 

Terimakasih…

 

Terimakasih untuk apa nih? Untuk kesigapanku menyelamatkanmu atau ponsel ini? hahahahaha

 

Kalau soal itu sih, rasanya aku tidak akan bisa membalasmu

 

Hubungilah pacarmu, kalau-kalau ia sudah jatuh hati pada pria lain yang lebih tampan dan tinggi darimu” seketika gelak tawa kami membahana didalam bilik perawatan yang tidak terlalu besar ini,

 

Satu kali,

Dua kali,

Tiga kali, Wendy tidak mengangkat.

 

Tidak diangkat?” aku mengangguk menjawab pertanyaan Bignose,

Tuhkan, apa kubilang.” Jongdae menepuk kepala Bignose kasar, ia terlihat bergumam dan memperingkatnya agar berhenti menggodaku. Sudah enam kali panggilanku tidak dijawab Wendy, dan aku memutuskan untuk menghubunginya kembali nanti.

.

.

Aku kembali coba menghubungi Wendy, saat ini Seoul sudah pukul 10 malam, mungkin saja pekerjaan Wendy sudah selesai.

 

Teleponku diangkat.

 

Tapi ia tidak berbicara sedikitpun, apakah ia marah padaku?!

 

Dear… kau disitu?” masih hening, tapi samar-samar dapat kudengar hembusan nafasnya dari telepon genggamku,

 

Maafkan aku karena tidak menghubungimu beberapa hari… aku-“ tidak, aku tidak boleh memberitahunya bahwa aku baru saja mengalami kecelakaan. Ia bisa khawatir, “Dear… apa kau marah? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?

 

Kau kenapa? Kenapa tidak selesaikan kalimat pembelaanmu itu?” aku menghela nafas lega, akhirnya Wendy bicara, walaupun dengan nada ketus sarat akan kekesalan.

 

Aku benar-benar banyak pekerjaan dear, sampai tidak sempat memegang ponsel.

 

Pekerjaan melayani penumpang-penumpangmu yang cantik-cantik?” tanyanya sarkastik, aku sontak tersenyum mendengar ucapannya. Ia sedang cemburu.

 

Entah sejak kapan, menurutku wanita sangat menggemaskan saat sedang cemburu, apalagi jika itu wendy, kekasihku.

 

Aku tidak melayani mereka dengan penuh cinta seperti aku melayanimu, dear

 

Bullshit…

 

Hey, mengapa kau mengumpat seperti itu? Aku serius dengan ucapanku, ayolah, apa yang harus kulakukan agar kekasihku satu ini berhenti merajuk?

 

Kupikir kau lupa kalau memiliki kekasih.” Ternyata ia benar-benar pribadi yang keras, aku diam sejenak. Kau harus tenang Kyungsoo, suatu hal yang wajar seorang gadis marah dengan pacarnya dengan kejadian seperti ini,

 

Menurutmu aku bisa melupakanmu. Atau kau memang sedang meminta aku untuk melupakanmu?” hening. Wendy tidak menjawab apapun.

 

Believe me dear. Ada beberapa masalah dikapal beberapa hari lalu, dan aku ikut membantu untuk mengatasinya.

 

Masalah? Masalah apa? Apa kau baik-baik saja?” nada bicara Wendy benar-benar berubah 180 derajat, ia terdengar sangat khawatir. Dan aku tersenyum karena akhirnya amarahnya mereda.

 

Tidak… aku baik-baik saja. Setidaknya masalah itu tidak membuatku sampai mati hehehehe.

 

Yak…Kubekap mulutmu jika kau berkata hal-hal mengerikan seprti itu lagi padaku” akupun tidak dapat menahan gelak tawa mendengar pernyataan ‘galak’ yang dilontarkan Wendy baru saja.

 

 

-o0o-

 

 

Miami, Florida Amerika Serikat– 17 November 2011

 

Kyungsoo melangkah dengan cepat melewati koridor panjang berdinding putih. Diliriknya jendela berembun di sepanjang koridor tersebut. Jendela langsung mengarah keluar itu mempertunjukkan butiran salju yang jatuh secara perlahan.

 

Kyungsoo menghembuskan nafasnya setelah tiba didepan pintu kayu berpelitur cokelat yang sangat besar. Terlintas kembali, nasihat bahkan makian dari Jongdae, Baekhyun, dan Bignose saat ia mengemukakan rencana ‘konyol’ –bagi mereka bertiga, kepada tiga rekannya tersebut.

 

“Kau gila Kyungsoo! Kau crew kesayangan captain. Kau pelaut jenius, dan kau ingin membuang karir cemerlang didepan matamu begitu saja?!”

 

“Kyungsoo bisakah kau berfikir lebih rasional? Tahun depan kudengar kau akan dipromosikan, astaga Do Kyungsoo.”

 

“Kalau kekasihmu mencintaimu ia pasti bisa mengerti konsekuensi pekerjaanmu Kyung. Kalian bahkan belum menikah, aigo aku benar-benar tidak menyangka ternyata kau sebodoh ini.”

Begitulah beberapa beberapa ucapan mereka yang sedikit kuingat. Aku tahu masa depanku menjanjikan diperusahaan ini. dan keputusan yang saat ini kuambil bukan serta merta tanpa pertimbangan panjang dariku.

 

Keputusanku sudah bulat.

 

Aku berdehem singkat berusaha mengusir keteganganku, lalu kuketuk pintu kayu tersebut dan memutar knop secara perlahan.

 

Aku melihat seorang pria bule berperawakan tinggi dengan dada bidang dan tubuh atletis. Ia serta merta berdiri melihat kehadiranku, aku tersenyum singkat padanya,

 

Excuse me sir, it’s me Do Kyungsoo. I already have an appointment to meet you” ia terlihat berfikir sejenak sampai akhirnya tersenyum menyambutku,

 

Ah, Mr. Do, please come in.” pria itu mengajakku untuk duduk disebuah sofa besar berwarna abu-abu. Di depannya terdapat beberapa makanan kecil, minuman ringan dan air mineral yang tertata dengan rapih.

 

So Sir, I’m here to talk about my retirement plan-…..“

 

-o0o-

 

Aku menyusuri jalan setapak dengan langkah perlahan bersama Kyungsoo, sudah satu minggu sejak ia kembali dari tugas pelayarannya. Atensiku terbagi antara memandang wajahnya dan menikmati tiap butiran salju yang mengiringi langkah kami. Kulirik Kyungsoo, dan ia masih tersenyum sambil memandang ke bentangan jalan setapak yang kami lalui, jemari dari tanganku yang terbalut sarung tangan angora pink terjalin dengan tangannya yang diselimuti sarung tangan abu-abu pemberianku saat ulang tahunnya awal tahun ini.

 

Mulut kami mengeluarkan uap-uap dingin beberapa kali, hingga akhirnya kami sampai didepan sebuah gedung yang terdapat sebuah Café tempat kami biasanya minum kopi sampil menyantap beberapa potong kue,

 

Aku dan Kyungsoo duduk dimeja yang dekat dengan jendela. Aku masih tersenyum-senyum sendiri, Kyungsoo memandangku dan tersenyum mengejek,

 

Kupikir kau hanya suka langit senja. Kenapa sekarang jadi memandangi gumpalan salju? Ahhh, sainganku untuk mendapat perhatianmu bertambah rupanya” aku terkekeh pelan mendengar ucapan Kyungsoo,

 

Berhenti merengek Soo-yah, perilaku itu tidak cocok sekali untukmu…” ia menggenggam tanganku erat, kali ini jari-jari kami bertautan tanpa ditutupi sarung tangan. Manik kami saling menatap dalam, “Jadi, berita apa yang mau kau sampaikan padaku?” ia tersenyum jail mendengar pertanyaanku, aku memicingkan mata menatapnya curiga,

 

Jangan lihat aku seperti itu, aku bukannya mau menculikmu atau seorang monster yang mau melahapmu, ingat!”

 

Lalu apa dong?” ucapku sambil menopang daguku dengan kedua tanganku alih-alih bersikap imut dihadapannya Kyungsoo malah menyeringai jijik menatapku,

 

Jangan bertingkah seperti itu, perilaku itu tidak cocok sekali untukmu” ia mencubit hidungku lembut sambil melontarkan kalimat yang sebelumnya kulontarkan untuk dia.

 

Hey itukan kata-kataku!” dan akupun merengut sebal, Kyungsoo terbahak.

 

Aku resign dari Royal Carribean.” Ucapnya singkat, sontak aku melongo kaget,

 

Apa maksudmu? Tunggu ap-

 

Ini pesanan anda” seorang pelayan wanita datang menginterupsi percakapanku dengan Kyungsoo, membawa dan menyajikan pesanan kami diatas meja, kami melirik dan mengangguk singkat sebelum kembali menatap satu sama lain.

 

Yah, maksudku aku berhenti berlayar di kapal pesiar itu.” Ucapnya kemudian sambil menyesap Cappucino hangat pesanannya. Jujur saja saat ini aku belum tertarik dengan Caramel Machiatto pesananku,

 

Alasannya??” aku tidak puas dengan pernyataan Kyungsoo. Sungguh. Ia terkekeh pelan menatap raut wajahku, yang saat ini penuh dengan gurat bingung dan keterkejutan.

 

Kau takut punya kekasih pengangguran, huh?

 

Ini bukan waktunya bercanda Soo-yah.” Aku mengerling kesal pada Kyungsoo dan melipat kedua tanganku didepan dada. Ia mengangkat kedua tangannya tanda ia menyerah dengan sikap acuh tak acuhnya,

 

Yah, ada perusahan kapal barang domestik yang menawariku pekerjaan sebagai Chief yang mendampingi Capt. Lagipula rentang waktu onboard nya lebih singkat, mungkin sekitar empat bulan. Jadi-“

 

Benarkah????” mataku membulat sempurna mendengar penjelasan dari mulut Kyungsoo yang bahkan belum selesai dilontarkannya. Aku tidak peduli, yang jelas ini adalah sebuah berita yang sangat luar biasa, aku menggenggam kedua tangan Kyungsoo dengan erat, aku benar-benar gembira, kurasa senyumku tidak akan pudar sepanjang hari, Kyungsoo tersenyum hangat melihat aksiku yang begitu menghebohkan didepannya.

 

Aku belum selesai bicara loh,” aku memandangnya dengan mata berbinar, tanda siap untuk mendengar seluruh penjelasannya tentang kabar baik satu ini.

 

Tapi walaupun jabatanku naik, gajiku tidak sebesar di royal carribean ditempat ini.”

 

Uang bukan masalah buatku, gajiku cukup besar untuk kita berdua. Yang penting kau akan lebih sering berada disampingku” kali ini ia mengambil alih genggaman tanganku dan membelai buku-buku jemariku lembut,

 

Aku tahu itu, namun kelak jika kita menikah aku akan menjadi kepala keluarga. Dan aku berkewajiban untuk menghidupimu dengan layak. Bukankah begitu?”

 

“Iya, aku tidak bilang mau mengambil alih tugasmu bukan. hanya saja, jika kita sudah berkeluarga bukankah segala sesuatu milikku akan menjadi milikmu dan begitu juga sebaliknya?” Kyungsoo masih menatapku lekat, “Jadi berhenti mengkhawatirkan tentang hal-hal tidak berguna Soo-yah, apalagi jika itu hanya tentang uang. Aku mencintaimu, apakah itu masih kurang?

 

Ia berdiri dan maju menghapus jarak diantara kami, ia mengecup keningku dengan perlahan, aku bisa dengan jelas mendengar deru nafasnya yang begitu hangat di permukaan wajahku,

 

Itu lebih dari cukup buatku dear, bahkan sempurna

.

.

Aku menatap hilir mudik orang yang lewat diadapanku, suasana pusat perbelanjaan Myeongdong memang selalu ramai, apalagi ini akhir pekan. Aku melirik jam tangan hitamku, dua jam lagi aku harus menjemput Wendy di apartementnya, dan orang yang kutunggu saat ini belum juga menampakan batang hidungnya.

 

Aku mulai menggosok-gosok telapak tanganku dengan kasar. Sarung tangan ini ternyata tidak cukup ampuh untuk menyingkirkan rasa dingin yang menjalar dipermukaan kulit tanganku, aku merasakan sebuah tangan besar menepuk pundakku. Aku membalikkan badan dan mendapatkan sosok yang sedari tadi kutunggu,

 

Kau terlambat 30 menit Bignose, aku berniat meninggalkanmu jika 15 menit lagi kau tidak juga muncul.” Ucapku mengomel padanya, ia malah memberikan cengiran-tanpa-dosa-alanya-.

 

Tinggalkan saja, toh kau yang memerlukan bantuan dan nasihatku. Katanya pria sejati, perkara begini saja sudah bingung setengah mati, kau payah Kyungsoo.” Ucapnya santai sambil memasukan kedua tangannya didalam saku celana, aku memberikan death glare andalanku padanya, “Sudahlah lebih baik kita mencari tempat lain untuk mengobrol, lagipula perutku sudah lapar.”

 

Ya, tapi aku hanya punya waktu setengah jam akibat keterlambatanmu, aku harus menjemput Wendy malam ini.

 

Baiklah-“ kami sudah siap-siap melangkah pergi saat tiba-tiba ia menghentikan langkahnya menatapku, “Ya, Kyungsoo-ah, bisakah kau memanggilku dengan normal? Aku punya nama yang lebih bagus dari namamu. Kau benar-benar mematikan pasaranku. Ini bukan ditengah laut, bagaimana jika ada wanita cantik yang tertarik padaku dan mendengar nama panggilan yang menggelikan itu. Yang ada dia bisa kabur sebelum berhasil kudapatkan” aku tergelak, melihat ekspresi wajah salah satu sahabatku yang ekspresif dan sangat dibuat-buat ini.

 

Baiklah Tuan Park Chanyeol, bisakah kita melanjutkan perjalanan kita dan mencari tempat yang lebih hangat. Aku tidak mau mati beku sebelum menjemput kekasihku nanti.

 

Cih…” dan yang kudengar selanjutnya disepanjang jalan hanyalah cibiran tidak berbobot andalan Chanyeol, si Bignose sahabat terbaikku.

 

-o0o-

 

 

Mapo-Gu, Dohwa-dong, Seoul– 12 Januari 2012

 

Ini pertama kalinya aku mengunjungi flat sederhana Kyungsoo yang baru dibelinya beberapa waktu yang lalu. Memang tidak sebesar apartemenku, tapi penataannya cukup apik dan menyegarkan. Aku dan Kyungsoo memiliki satu lagi persamaan, kami tidak menyukai warna terang dan mencolok.

 

Aku menyukai warna-warna pastel yang lembut, sedangkan Kyungsoo menyukai warna-warna gelap yang misterius.

 

Masih menikmati beberapa lukisan dan kapal-kapal layar rakitan dari kayu yang tersusun rapih disalah satu buffet minimalis milik Kyungsoo, kudengar suaranya berdeham mengganggu atensiku dari beberapa koleksi miliknya tersebut,

 

Kau mau minum apa?” tanyanya, aku segera menghampirinya dan menarik lengannya menuju pantry mini miliknya. Kubuka kantung plastik berisi satu kotak cake tiramisu.

 

Ini ulang-tahunmu Soo-yah, suka atau tidak kita akan merayakannya secara kecil-kecilan.” Dan ia hanya mengangguk pasrah. Kubawa cake tersebut diatas meja, dan kemabali ke pantry untuk membuka kantong plastik kecil yang lainnya, mengangkat beberapa kaleng alkohol, dan menunjukkannya pada Kyungsoo. Ia hanya mengedikkan bahu dambil tersenyum,

 

Inikan ulang tahunmu, alkohol adalah minuman wajib untuk merayakan pesta” setelah menyalakan beberapa lilin diatas cake, aku mulai bersenandung ria menyanyikan lagu ucapan selamat ulang tahun kepada Kyungsoo. Kyungsoo meniup lilin-lilin tersebut hingga padam seluruhnya. Kemudian kami saling menyuapi cake dan menghabiskan beberapa kaleng alkohol yang kubeli. Sambil bercakap-cakap aku berbaring dan meletakkan puncak kepalaku diatas paha Kyungsoo, ia membelai surai cokelatku lembut.

 

Sorot mata Kyungsoo sedikit gelisah dan gugup. Aku bisa melihat jelas ada suatu hal yang disembunyikannya. Walaupun ia menutupinya dalam diam.

 

Apakah ada yang sedang mengganggu pikiranmu?” tanyaku lembut, ia menggeleng namun masih menghindari kontak mata denganku. Aku gemas melihat tingkahnya, aku segera bangun dengan cepat, sehingga saat ini kami saling berhadapan. Ia mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya yang besar.

 

Kau mau mencoba berbohong padaku di hari ulang tahunmu, huh?

 

Sungguh tidak apa-“ kalimatnya menggantung, aku masih menatapnya dengan menaikkan sebelah alis mataku, “Mau menemaniku bermain?

.

.

Aku masih kehabisan kata-kata dengan tingkah konyol dan tidak masuk diakal Kyungsoo, diumurnya yang genap menginjak 26 tahun saat ini ia malah sibuk mengajakku merakit kapal layar yang dibentuk dari kepingan-kepingan plastik yang disusun dan direkatkan satu sama lain.

 

Aku bukannya merasa kesulitan, hanya saja aku masih merasa aneh dengan sikapnya saat ini. melihatnya yang serius merekatkan kepingan-kepingan plastik tersebut, mau tidak mau aku bergabung membantunya walau hanya sekedar memberikan kepingan yang ia butuhkan untuk menyempurnakan kapal layar buatannya.

 

Nah, tinggal potongan Bridge-nya nih

 

Apa itu bridge?

 

Ruangan tempat Nakhoda mengemudikan kapal…” aku mengangguk-angguk singkat, ia menyodorkan kapal layar rakitannya yang nyaris sempurna padaku, “Bisakah kau membantuku mencari kepingan bridge itu, mungkin ada dibawah meja atau sofa, aku ingin ke toilet sebentar…” akupun mengangguk menyetujuinya.

 

Aku menundukkan kepalaku dan mengedarkan pandanganku disekitar lantai, antara sofa dan meja tempat kami merakit kapal plastik ini, dan akhirnya manik mataku menemukan sebuah kepingan plastik kecil berbentuk kotak berwarna putih, aku merangkak menghampiri kepingan tersembut yang tergeletak didekat meja kayu kecil Kyungsoo tempat ia menaruh foto masa mudanya bersama sang ayah.

 

Aku mengambil kepingan tersebut, menatap figura foto dari lempeng logam sederhana dan tersenyum. Kyungsoo dan ayahnya terlihat begitu mirip.

 

Soo-yahh aku sudah menemukannya.” Aku berteriak sedikit keras agar ia mendnegar ucapanku, “Biarkan aku saja yang coba un-“ lidahku kelu saat menggenggam kapal layar yang ditinggalkan Kyungsoo begitu saja diatas meja. Bukan semata-mata karena kapal rakitan tersebut, tapi karena keberadaan sebuat benda berbentuk lingkaran dengan pendar batu mungil yang berkilauan.

 

Itu sebuah cincin.

Aku menyentuhnya perlahan, cincin itu berwarna perak dengan mata satu sederhana, dibagian dalam terdapat ukiran ‘wensoo’. Tepat disaat itu Kyungsoo muncul dari balik pintu kamar tidurnya membawa sebuah buket mawar merah muda yang sangat besar.

 

Aku menutup mulutku dengan tangan kiriku, ia menghampiriku perlahan dan memberikan buket bunga itu padaku. Kapal layar rakitan yang masih kugenggam dnegan tangan kanan diambilnya. Setelah aku memegang buket bunga tersebut dengan setengah gemetaran, ia mengambil cincin tersebut dan  memasukkannya kedalam jari manis kiriku. Ia tersenyum lembut, kemudian bibirnya menyentuh dahiku. Aku benar-benar terkesima dengan perlakuannya malam ini tidak mampu melakukan apa-apa selain diam.

 

Menikahlah denganku Wendy-ah. Aku sangat mencintaimu” dan kalimat itu berhasil membuat pertahananku runtuh, bulir-bulir cairan bening menyeruak begitu saja dipelupuk mataku. Ada perasaan hangat yang menjalar, namun tidak sejalan dengan debaran jantungku yang berpacu tidak normal. Aku sungguh bahagia, benar-benar bahagia.

 

Aku menghambur didalam pelukannya, ia mengusap-usap pundakku lembut.

 

Bagaimana mungkin aku bisa menolaknya Soo-yah. Kau juga tahu betapa aku mencintaimu” ia menarik tubuhku dan menggenggam kedua bahuku, tatapan kami bersirobok, tatapannya menuntutku. Dan kami tidak mampu mengalihkan manik kami barang sedetik saja, ia mengusap airmata yang tergenang diwajahku dengan lembut.

 

 

Sudut bibirku yang membentuk sebuah senyuman selanjutnya dibungkam oleh bibir Kyungsoo, jari-jarinya nya mengusap lembut kedua pipiku yang saat ini jelas sedang merona. Sentuhan Kyungsoo membuatku tercekat dan menahan nafas, aku selalu menyukai sensasi aneh yang tercipta saat ia menyentuhku, kubiarkan diriku terbawa dalam suasana hangat dan mendebarkan seperti saat ini. Melihat hal tersebut Kyungsoo melingkarkan lengannya dipinggangku dan memelukku erat, seiring dengan hal tersebut ia memperdalam ciuman kami, dan membuatku menjatuhkan buket bunga mawar pemberiannya, begitu saja.

.

.

Pelabuhan Incheon, Korea Selatan – 4 Februari 2012

 

Hari ini aku kembali melepaskan Kyungsoo untuk kembali bertugas di tengah lautan, dengan kapal barunya. Seminggu setelah ia melamarku, aku membawanya kerumah kedua orang tuaku, dan aku bersyukur Appa dan Eomma menerima Kyungsoo dengan baik. Dan beberapa hari setelahnya, aku yang diboyong Kyungsoo ke Busan kerumah tempat ayah, kakek dan neneknya tinggal.

 

Nenek Kyungsoo begitu hangat, sorot mata menenangkan Kyungsoo kurasa didapatkannya dari sang nenek.

 

Setelah kami mengemukakan rencana pernikahan kami yang mungkin akan kami laksanakan akhir tahun ini, orang tua kami masing-masing tidak keberatan dengan keputusan tersebut dan aku sungguh bahagia karena hal itu.

Karena itulah, kali ini aku melepaskan Kyungsoo dengan senyuman, tidak dengan airmata seperti biasanya.

 

Terimakasih Dear…” ucapnya tiba-tiba,

 

Untuk?

 

Karena mau melepaskanku tanpa airmata…” aku tersenyum mendengar penuturan Kyungsoo, “Berjanjilah kau akan selalu bahagia seperti saat ini…

 

Tenju saja aku bahagia, wanita mana yang tidak bahagia jika memiliki seorang calon suami sepertimu?” Kyungsoo tersenyum dan memelukku erat. Ia mengecup puncak kepalaku berkali-kali.

 

Aku pasti akan sangat merindukanmu…” lagi-lagi aku setuju dengan penuturannya,

 

Aku juga, aku akan selalu merindukanmu.

 

-o0o-

 

Aku menggoreskan pensil kesayanganku diatas sketsa membentuk sebuah gaun yang terjuntai indah namun tetap terlihat sederhana tanpa lipatan-lipatan dan payet-payet rumit layaknya sebuah gaun pengantin yang marak terdapat dipasaran.

 

Yah aku sedang coba mendesain gaun yang rencananya akan kupakai dihari pernikahanku dengan Kyungsoo nanti.

 

Wuhh… Yang sudah mau menikah bedalah ya auranya…” aku terkekeh menanggapi ledekan Seulgi. Ia menghampiri bilik kerjaku yang tidak terlalu jauh darinya. Ia masih menggenggam botol air mineral yang baru saja ditenggaknya sampai habis, ia terlihat menerawang sambil mengusap-usap dagu runcing miliknya,

 

Aku sungguh tidak menyangka kau akan menikah dengan si pelaut itu, ah… kalian benar-benar berjodoh. Aku jadi iri padamu.” Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya,

 

Mankanya cari pria itu jangan hanya karena tampan dan kaya seperti Kim Jongin, ujung-ujungnya kau diselingkuhi kan dengan siapa itu namanya? gadis cantik dari departement pemasaran? Aduh aku lupa nama-

 

Jung Soojung!” tukasnya cepat dan malas,

 

Ahh iya, Soojung. Hehehehe

 

Hehehehehe, kau senang diatas penderitaan sahabatmu huh? Dasar gadis jahat.” Melihat Seulgi yang berpura-pura merengek sambil menirukan eksperi tawa yang sempat kulakukan hanya membuatku puas terbahak-bahak dihadapannya.

.

.

Laut Cina Selatan, bulk carrier Shawol III – 17 Maret 2012

 

Kapal Shawol 3 adalah sebuah bulk carrier* tempatku bekerja saat ini. aku sudah berlayar selama lebih dari empat puluh hari. Pelayaranku dimulai dari pelabuhan Incheon menuju pelabuhan Fukuoka Jepang. Saat ini pelayaran kami memasuki Laut Cina Selatan, Gelombang pun mulai menghantam tinggi dengan kecepatan angin yang meningkat pula. Aku dan para awak kapal masih tenang-tenang saja menanggapi keadaan ini, karena hal ini merupakan sesuatu yang lumrah dihadapi seorang pelaut.

 

Gerimis mulai membahasi geladak dan buritan kapal, aku memandang ke langit yang sudah diselimuti awan kelabu. Aku mendengar laporan berita acara dari perwira radio yang melaporkan berita acara harian, dan mengatakan cuaca masih dalam batas wajar.

.

Kau sudah melapor pada Chief Do?” seorang pria berperawakan tegap yang ditanya hanya mengangguk. Menatap balik kawannya tersebut yang terlihat merenung,

 

Ada apa?” hening, pria bertubuh agak gempal tersebut masih tidak menjawab,

 

Lee Sang Woo, aku bertanya padamu…” sadar bahwa namanya dipanggil, pria itu menggelengkan kepalanya dan terseyum samar.

 

Tidak ada apa-apa sunbae… sepertinya aku salah lihat” kemudian ia pun berlalu.

 

Aku tidak yakin apakah yang kulihat tadi itu adalah wind dog* , tapi tidak selamanya badai itu mematikan bukan?!

.

Dua hari kemudian pelayaran harusnya sudah tepat melintang di laut jepang, namun cuaca semakin buruk, mendung tebal dengan rinal hujan yang makin deras membuat jarak tampak tidak lebih dari 15 meter saja. Akupun sebagai Chief Officer yang masih sangat baru harus lebih hati-hati dan teliti dalam mendukung pekerjaan sang captain.

 

Dengan perintah Capt. Kang, aku mengumpulkan seluruh chief dan crew navigation untuk mendiskusikan keadaan Shawol 3 yang sudah masuk daerah gale* awal terbentuknya badai tropik.

 

Aku menatap mesin fax cuaca yang sedari tadi kuperhatikan, inmarsat* tidak henti-hentinya berbunyi, membuktikan perkiraanku btentang badai tropik tadi tidak meleset sedikit pun.

 

Benar saja, dari beberapa laporan stasiun pantai Yamaghuci dan Hongkong tergambar jelas badai tropik telah terbentuk di sekitar laut China Timur. Dengan diameter putaran 154 mil, kecepatan putaran 131 mil/jam arah perpindahan barat daya 28 mil/jam.

 

Kulirik Capt. Kang yang masih memandang laporan-laporan cuaca tersebut, sambil memikirkan langkah yang akan kami ambil, aku yakin itu.

 

Kyungsoo, cepat perhitungkan kecepatan kapal dengan kecepatan arah perubahan mata badai tropik! Jaehyun tetap stay di engine room, jangan sampai lengah dengan keadaan apapun. Yuta tetap amati perubahan yang terjadi pada anemometer

 

Baik capt” jawab kami serempak, sambil tetap fokus dan kembali ke tempat kami untuk menjalani tugas masing-masing. Tidak beberapa lama dari situ Yuta terdengar berucap dengan nada keras,

 

Capt, kecepatan angin mengalami kenaikan drastis,” kami memandang Yuta, “Dan yang lebih buruk lagi tekanan mengalami penurunan secara terus-menerus.

 

Shawol 3 yang gagah perkasa dan dipenuhi dengan alat navigasi canggih mulai sulit dikendalikan, hujan lebat dan tiupan angin yang sangat kencang membuat kapal kami terombang-ambing tidak karuan diatas samudra.

 

Capt, dua buah sekochi di starboard* terlepas dari ikatannya.” Lapor salah satu ABK  yang bertugas di geladak utama. Benda seberat 120 kg itu terlihat melesat diudara seperti layang-layang.

 

Aku menatap jam yang adadidalam kapal, pukul 13.40 GMT tapi keadaan langit saat ini sungguh sulit dibedakan antara siang dan malam.

.

Hampir dua puluh empat jam kapal kami terombang ambing dengan brutal diatas samudra, dan selama itu aku dan seluruh awak kapal tidak ada yang bisa istirahat sedikitpun. Beberapa berita terdengar menginformasikan beberapa kapal telah tenggelam tergulung ombak, tanpa mengetahui nasib awak kapal yang ada didalamnya.

 

Keadaan semakin runyam saat mata badai tropik berubah menuju arah selatan –kearah kapal kami, dengan kecepatan 14 mil/jam. Perkiraanku, stasiun Yamaguchi, dan perhitungan sempurna alat navigasi mutakhir tersebut tidak berguna.

 

Berulang kali bdan kapal terbenam oleh gulungan gelombang setinggi 30 meter, capt.Kang sudah memerintahkan kami –seluruh crew, harus bersiaga dengan rompi pelampung dan siap diposisi masing-masing yang telah ditentukan.

 

Capt. Kang, aku dan beberapa officer lainnya masih mencoba mengendalikan kapal sebisa mungkin. Semua teori yang kuperoleh dan segala perhitunganku yang jarang sekali meleset tidak membuahkan hasil yang berarti,

 

 

 

BAMMMMM.

 

Terdengar bunyi keras yang menghantam atap anjungan, belum selesai dari rasa kaget, salah satu ABK sudah melapor bahwa pipa besi berdiameter 150cm yang berfungsi sebagai scanner tiang radar 1 telah patah.

 

Keadaan dalam kapal sudah mulai carut marut dalam kepanikan. Kupandang beberapa crew yang sudah meneteskan airmata. Ada juga yang bersujud seperti memohon ampun atau meminta keselamatan, entahlah.

 

Aku terdiam untuk beberapa saat menghantarkanku pada potongan-potongan grafis yang terekam sempurna dalam memoriku, wajah ayahku, ibuku –yang sudah bertahun-tahun meninggalkanku, kakek dan nenek, juga Son Wendy. Ah ya, wanita yang begitu kucintai selama dua tahun belakangan ini. Teringat jelas rangkaian perencanaan pernikahan kami yang akan kami laksanakan akhir tahun ini, aku tersenyum getir, nyatanya bulir-bulir airmata itu mengalir juga.

Maafkan aku Wendy-ah, maafkan aku…

.

.

.

 

Pranggggg…

Gelas kristal bening yang baru saja kugunakan untuk minum tiba-tiba terlepas dari gengamannya, suara berisik itu jelas mengundang perhatian beberapa orang yang berkeliaran disekitar pantry. Aku menunduk seraya mengucapkan permintaan maaf atas keributan yang sudah kuperbuat sambil berusaha membersihkan pecahan kaca tersebut, tepat saat ajhumma min –office girl kantor kami, datang telunjukku sudah tergores pecahan kaca dan mengeluarkan darah segar berbau anyir.

 

Seharusnya kau tinggalkan saja nak, biar bibi yang membersihkan itu. Kau obati saja dulu lukamu.” Dan akupun hanya mengangguk lemah menyetujui sarannya. Berjalan dengan gontai dengan perasaan aneh yang membuatku tiba-tiba merasa gelisah dan tidak tenang tanpa alasan.

 

.

.

 

Kami masih mencoba berjuang melawan badai luar biasa ini, namun kapal sudah tidak dapat dikendalikan sepenuhnya. Satu-satunya harapan kami adalah mujizat dari Tuhan semesta alam.  Capt. Kang terlihat berdiri diajungan tanpa rasa gentar, ia seperti menantang amukan badai yang membuat kami terombang-ambing dilautan saat ini.

 

Jaehyun –salah satu chief engineer kapal ini, muncul dengan terengah dihadapan kami.

 

Capt, Engine room di sisi kiri kapal memgalami kerusakan parah, air sudah mulai menjalar masuk ke lambung kapal, kita benar-benar berakhir. Kita harus cepat-cepat meninggalkan kapal ini.”

 

Keadaan benar-benar runyam. Dengan ada atau tidaknya badai ternyata kerusakan didalam engine room dapat membuat kapal kami tenggelam. Dan sekarang kami dihadapkan dengan dua keadaan mengerikan tersebut.

 

Aku mendengar Capt. Kang bersuara dengan lantang,

 

Tegakkan kepala kalian! Mati terhormat dengan keyakinan dalam menjalani tugas kita itu lebih baik, daripada kalian meratapi keadaan kita yang saat ini jelas jauh dari kata aman dan beruntung.” Ia memandang kami satu persatu, “Kuharap kalian bisa bertahan dan menyelamatkan diri. Sekarang, kuperintahkan kalian untuk meninggalkan tempat ini dan berusaha bertahan hidup.

.

Keadaan kapal ini benar-benar porak poranda. Tidak ada satupun sekochi yang tersisa, kalaupun masih ada diatas kapal, wujudnya sudah tidak terbentuk layaknya sebuah perahu penolong disaat-saat genting seperti ini.

 

Aku menggenggam tuas-tuas besi penyangga saat tiba-tiba kapal semakin miring kearah kiri kapal. Dan saat ini kapal sudah mulai miring hampir 180 derajat. Aku  terjatuh terjerembab mengikuti arah olengnya kapal. Kulihat beberapa rekanku sudah melompat bebas kelaut hanya dengan baju pelampung yang menempel pada tubuh mereka. Aku berusaha menggapa-gapai apapun yang bisa kujadikan pegangan saat pergelangan kakiku tersangkut pada salah satu besi penyangga yang terapat diatas kapal.

 

Grekkkk,

Kapal kembali masuk lebih dalam dengan kemiringan sempurna. Gulungan gelombang yang begitu tinggi lantas membuatku megap-megap menelan air laut yang rasa asinnya begitu menohok tenggorokanku. Tidak jauh dari tempatku bergantung kulihat Jaehyun yang sudah bersimbah darah di bagian pelipis. Aku berusaha memanggilnya namun ia tidak mendengar.

 

Aku bergerak maju berusaha menyadarkan Jaehyun agar ia bisa menyelamatkan diri. Namun saat aku berada tepat disampingnya, sebuah benda besar –seperti potongan besi, jatuh dan tapat menimpa kepalanya, serta merta aku merasakan sakit yang luar biasa. Genggamanku pada tuas-tuas penyangga terlepas, tubuhku terbentur beberapa kali sebelum akhirnya aku merasakan dinginnya air laut menusuk sum-sum tulangku.

 

Disisa-sisa kesadaranku, aku membuka mata dan mengingat setiap kenangan indah yang kulalui bersama Wendy, senyumnya, pelukannya, sentuhannya.

 

Aku mencintaimu wendy-ah, aku mencintaimu. Terimakasih.

 

Dan semuanya menjadi gelap.

.

.

.

.

Yeomgok-dong, Seocho-Gu,Seoul – 20 Maret 2012

 

“Sebuah kapal jenis bulk carrier milik Kore Selatan, Shawol 3, dengan rute Incheon-Fukuoka-Hongkong,tenggelam diperairan samudra Jepang 237 mil tenggara Laut Cina Selatan. Pihak perusahaan mengemukakan badai tropik dan kerusakan ruang mesin sebagai penyebab utama kandasnya bulk carrier tersebut. Sampai berita ini diturunkan,kapal yang membawa 47 awak kapal, dengan 14 korban yang telah ditemukan, 23 dinyatakan tewas, 10 dinyatakan hilang…”

 

Aku memandang headline berita di televisi yang saat ini tengah kutonton, pandangan mataku menjadi tidak fokus. Tungkai kakiku melemas, membuatku limbung seketika. Aku bergegas menuju kamar tidur mengambil ponselku. Aku membuka kotak galeri mencari-cari sebuah foto yang kuambil bersama Kyungsoo sebelum ia berangkat  berlayar bersama kapal baru tempatnya bekerja.

 

Airmataku sudah mulai mengalir, gambar yang kucari sedari tadi kutemukan. Aku memperbesar layar ponselku, kugerak-gerakan sampai tulisan yang terdapat pada dinding kapal tepat dibelakang tempat aku dan Kyungsoo berdiri terbaca dengan jelas,

 

Shawol 3.

 

Aku menjerit histeris menyadari bahwa berita yang kulihat baru saja adalah kapal yang membawa Kyungsoo. Bagaimana keadaan Kyungsoo. Apa yang terjadi padanya. Aku tersungkur ditepi tempat tidur sambil menangis tersedu.

 

-o0o-

 

 

Cheongdam-dong, Gangnam-Gu,Seoul – 13 Juli 2015

 

Seorang gadis bersurai cokelat panjang duduk ditepian tempat tidur sambil menatap kosong kearah jendela. Kulit putihnya terlihat pucat, sesekon kemudian ia menarik lutut dan memeluknya erat. Dalam keheningan bulir-bulir airmata mengalir dengan deras, ia masih tidak mengedipkan kedua matanya.

Yang ia lakukan hanyalah memandang kearah jendela dengan tatapan kosong. Ia adalah Son Wendy, yang kejiwaan terguncang setelah kepergian Kyungsoo.

 

Dari celah pintu ruangan gadis tersebut, terlihat perempuan dan lelaki separuh baya, dengan seorang pria berperawakan tinggi. Si perempuan separuh baya itu terlihat terisak sambil menatap pilu si gadis. Mereka adalah kedua orang tua wendy,

Apakah belum ada perubahan paman?” si pria separuh baya –ayah wendy, tersebut menggeleng lemah sambil memeluk tubuh sang istri yang masih terisak melihat keadaan putrinya.

 

Bagaimana dengan makanannya?

 

Ia memakannya dengan tenang, namun tidak sampai 10 menit kemudian ia akan muntah, dan itu terjadi terus menerus.”

Benar-benar tidak mau berbicara sedikitpun?

 

Menoleh pun tidak. Ia hanya diam dengan pandangan kosong dan menangis. Dan itu membuat kami berdua lebih tersiksa melihatnya.” Si pria menghela nafasnya,

 

Bolehkah saya mencoba berbicara padanya? Mungkin saya akan mengingatkannya dengan Kyungsoo, kalau paman dan bibi tidak keberatan.

 

Kalau memang itu yang terbaik lakukanlah nak, kami tidak keberatan sedikitpun” sang pria mengangguk yakin, “Terimakasih nak Chanyeol, Kyungsoo sangat beruntung memiliki teman sepertimu.”

.

Chanyeol melangkah tanpa ragu masuk kedalam kamar yang Wendy tempati saat ini, ia menyentuh dinding-dinding hangat yang mengelilingi ruangan tersebut. Setelah sampai di tepi ranjang tempat Wendy duduk dengan tatapan kosong, ia berusaha membungkukkan tubuh tingginya menatap Wendy,

 

Anyeong Wendy-ah, aku Park Chanyeol sahabat Kyungsoo. Aku menyesal kita belum pernah berkenalan secara resmi sebelumnya.” Chanyeol berusaha memberikan salam perkenalan se-normal dan se-ekspresif mungkin, namun yang diajak bicara tidak bergeming, diam seperti patung.

 

Ini tidak akan mudah, Do Kyungsoo kau lihat ini kan? Kau benar-benar banyak berhutang padaku.

.

.

Mengunjungi Wendy menjadi rutinitas Chanyeol selama beberapa hari belakangan ini. ia tidak terlihat merasa bosan dan lelah berceloteh didepan kekasih sahabatnya tersebut. Seperti hari ini, ia datang dengan wajah ceria dengan mengenggam sebuat buku seperti buku agenda yang cukup besar bersampul abu-abu,

 

Hai, wendy-ah. Bagaimana keadaanmu hari ini? lihatlah!” ia menggoyang-goyangkan sebuah buku yang sedari tadi digenggamnya kehadapan Wendy, “Kau tahu? Ini buku harian Kyungsoo. Kelak saat kau sadar, kau harus memuji kehebatanku karena bisa mendapatkan buku ini.” raut wajah Chanyeol sedikit berubah sendu, “Kau benar-benar wanita beruntung karena memiliki kekasih seperti Kyungsoo, aku akan membacakan catatan Kyungsoo ini tiap harinya, kuharap kau cepat sadar Wendy-ah, aku yakin Kyungsoo sangatlah sedih melihat keadaanmu yang seperti ini” namun wendy masih terdiam membisu.

.

Chanyeol membuktikan ucapannya, sudah seminggu ini ia hadir menemani Wendy sambil membacakan isi dari lembaran-lembaran berisikan catatan tangan Kyungsoo.

 

Tadi malam aku bertemu dengan seorang wanita, dengan gaun hitam. Ia terlihat sangat cantik. Saat aku melihatnya berdiri diatas anjungan yang menghadap dengan pembatas kapal, kupikir ia akan bunuh diri. Tapi setelah kupandangi lamat-lamat ternyata ia sedang menikmati udara segar.gadis ini ketus tapi menggemaskan, ia membuat rasa kesalku pada Sehun yang  berotak udang hilang begitu saja.

 

Tuhan, aku benar-benar bahagia. Wendy menerima pengakuan cintaku. Aku berjanji tidak akan menyakiti gadis itu. Entahlah, diwaktu yang begitu singkat aku merasa sudah sangat mencintainya.

 

Aku mengundurkan diri, Wendy tidak mengetahuinya sama sekali. Bekerja di Royal Carribean memang impianku. Dan aku bertemu Wendy pun di tempat ini. Hanya saja jangka waktu pelayaran ditempat ini sungguh panjang. Walau bagaimanapun kehadiran wendy membuatku kembali berpikir tujuan hidupku dimasa depan. Aku benar-benar mencintainya, aku ingin menikah dengannya dan membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia dengan anak-anak kami nantinya. Tapi melihat pekerjaanku saat ini, sudah kubayangkan bahwa aku tidak akan mempunyai waktu yang cukup banyak dengan keluargaku kelak. Karena itulah aku memutuskan untuk resign.

 

Aku akan melamarnya besok. Aku benar-benar gugup. Otakku seperti buntu memikirkan bagaimana caraku melamarnya. Beruntungnya aku, Bignose sedang cuti, jadi aku bisa bertemu dengannya dan meminta sedikit saran. Walapun aku bersumpah ia tidak banyak membantu, hahaha tapi setidaknya ia membuka jalan pikiranku untuk menemukan beberapa ide cemerlang. Bignose’s always great, hahahha. Kuharap ia segera menemukan wanita baik dan berhenti untuk bermain-main.
Chanyeol tersenyum getir membaca tiap kata-kata yang tertulis dengan tinta hitam tersebut, Wendy masih terdiam namun terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali. Namun hal tersebut luput dari penglihatan Chanyeol,

 

Baiklah kurasa hari ini cukup. Cepatlah pulih Son Wendy, banyak orang yang menunggumu. Relakan Kyungsoo pergi, aku akan kembali berlayar dalam beberapa hari kedepan. Kuharap saat aku kembali ketempat ini kau sudah tidak berada didalam kamar ini seperti patung. Sudah kukatakan berkali-kali, sahabatku mencintaimu lebih dari dirinya sendiri. Jadi kumohon kembalilah, jangan menyiksa dirimu dan orangtuamu terus menerus seperti ini.” setelah berbicara panjang lebar, Chanyeol meninggalkan ruangan tersebut. Tepat saat Chanyeol keluar dari kamar tersebut, airmata mengalir dari pelupuk mata Wendy.

.

.

Aku berjalan dengan kaki telanjang diatas pasir putih yang membentang begitu luas, tangan kiriku digenggam oleh seorang pria yang kusadari adalah Kyungsoo. Wajahnya terlihat begitu bersinar, ia memandangku dengan tatapan teduh menenangkan andalannya,

 

Mengapa kau meninggalkanku?

 

Aku tidak meninggalkanmu.”

 

Kau pembohong Kyungsoo.” Ia terlihat menghela nafas panjang,

 

Yang saat ini kau butuhkan adalah menerima kenyataan, Dear.” Ia menatapku lamat-lamat, “Karena aku laut dan engkau langit senja, meskipun serasi, mustahil untuk duduk saling bersisi. Karena itulah kumohon, lanjutkan hidupmu. Sungguh, aku tidak akan meninggalkanmu, meskipun tidak ada satupun orang yang tahu eksistensiku. Aku akan selalu disisimu. Aku akan selalu diam disini bersamamu,” ia menepuk-nepuk dadanya dihadapanku, “Selamanya.”

.

Aku membuka mataku perlahan dan melihat sekeliling, ruangan ini tidak asing bagiku. Sedetik kemudian aku sadar bahwa ini adalah kamarku sendiri. Kamar tempat dimana aku bertumbuh dari kecil hingga dewasa.

.

 

Busan, Korea Selatan  12 Januari 2016

 

Aku menatap pusara dengan nisan bertuliskan nama Do Kyungsoo. Aku menatap lekat pusara tersebut. Semilir angin menerbangkan surai-surai cokelatku, aku masih tertegun berdiri tanpa bergerak sedikitpun. Aku masih menggenggam buket lily putih ditangan kananku, aku tidak menangis. Airmataku sudah kering rasanya .

 

Kusentuh ukiran yang terdapat pada batu nisan tersebut, kuhela nafas panjang dan memejamkan mataku perlahan.

 

Kyungsoo… ini aku.

Aku kembali seperti permintaanmu. Kau tahu ini tidak mudah bagiku bukan? semua kenangan tentangmu, tentang kita sangatlah berarti bagiku. Sampaikanlah permintaanku pada Tuhan. Kelak jika kita bertemu kembali dikehidupan yang lain, buatlah kita tetap mencintai satu sama lain, dan jangan pernah pisahkan kita berdua lagi seperti sekarang. Aku berjanji akan melakukan apapun dikehidupan saat ini agar permohonanku dikabulkan.

 

 

Kyungsoo,

Aku juga mau memberitahumu bahwa Chanyeol-lah yang membantuku untuk sadar kembali, kau harus berterimakasih padanya. Ia benar-benar sahabat yang hebat, ah iya… saat ini ia juga sudah tidak bergonta-ganti pasangan seperti dulu. Ia bertemu dengan gadis berkebangsaan Inggris bernama Charlotte, sepertinya chanyeol benar-benar jatuh cinta pada gadis cantik itu.

 

Ah iya, esok aku akan menghadiri kencan buta. Nama pria itu Park Bogum, yang kudengar ia adalah seorang dokter gigi. Apakah menurutmu aku bisa mencintainya seperti aku mencintaimu Soo-yah? Kau tidak akan cemburu bukan? kekekeke

Kau tahu Soo-yah? Seperti yang kau bilang padaku, saat kau datang sebelum aku kembali pulih. Kau selalu berada disisiku, aku tahu itu Soo-yah, lebih dari siapapun. Dan kau akan selalu memiliki tempat yang istimewa dihatiku, selamanya.

Terimakasih karena sudah hadir dalam hidupku Kyungsoo, Terimakasih karena sudah pernah mewarnai hari-hariku, terimakasih karena sudah mengajarkanku arti dari kata menunggu, terimakasih karena pernah membuatku merasa menjadi wanita yang paling beruntung didunia. Terimakasih.

 

Aku mencintaimu, Do Kyungsoo.

 

FIN

 

 

Footnote:

Vigia, Laporan akan adanya bahaya terhadap navigasi kapal

Bulk Carrier, kapal dagang yang dirancang khusus untuk mengangkut kargo curah unpackaged, seperti biji-bijian, batu bara, bijih, dan semen

Wind dog, Pelangi yang tidak sempurna, atau bagian dari pelangi yang mengindikasikan akan adanya badai.

Inmarsat, satelit maritim.

Gale, cuaca buruk.

 

 

 

 

Hai Dreamers…

Bagaimana, bagaimana??? Hehehe

Pertama-tama aku mau ngucapin makasih buat mbah google sebagai sarana informasi dan referensiku, makasih buat Quotes mas Firman Noveki #pedahalgakkenal kupinjam yah mas Quotesnya hehehhee, terus makasih buat coretan para pelaut yang rajin ngeblog, jadi punya inspirasi buat ngegambarin proses kecelakaannya Kyungsoo kekekekee.

Maaf banget karena udah banyak ngoceh bau heheheehe, plisss banget aku minta untuk para readers yang udah baca tulisanku ini jangan lupa tiga etika penting dalam per-fanfiction-an..

  1. R: Read
  2. C: Comment
  3. L: Like

Jangan jadii Silent readerrss! yah yah yah???

Terimakasih semuaaaanya, Yukk dadah babay :*

 

With Love,

thanasa

 

 

Advertisements

Author:

I am a ordinary girl, who love Do Kyungsoo damn much... -You may know My Name, But You don't really know Who I am- (:

2 thoughts on “They Never Know #2-END

  1. Heran kenapa ga ada yang ngasih comment ke cerita ini. Suer, siapapun kamu, kamu jago banget buat ff bahasa Indonesia. Wlpn sebenernya aku gak terlalu paham dengan tata kalimat dari bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi keliatan bngt kalo kamu gak nyepelein banget tata kalimat yang baik dan bener. Belum lagi plotnya. Suer ini keren banget dan bisa buat gue ga bosen di tengah jalan pas bacanya. Pokoknya keren banget sumpah, gue suka banget gaya penulisan lo. Kayaknya otp gue nambah lagi nih berkat lo, tadinya gw cuman nge-ship Wendy sm Chanyeol sama Jongdae, tp abis baca ini gue jadi suka ngebayangin gimana kalo Wendy sama Dyoo hahahaha. Ditunggu ff wendy-do selanjutnya yaaa! 🙂

    Like

    1. Hai Ann, salam kenal…
      Astada sumpaah aku senyum baca komen-mu. Bukan semata2 Katanya pujianmu tpiii jujur emg ini ff yg kupikirkan scra serious, krna ff dgan cast biasku sndri haahahhahahaha…

      Siphsiph, tunggu ya ff baru Ku msih wensoo Dan ada Jongin-nya loh hehehehehee

      Sign,
      Thanasa 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s