Posted in Angst, Do Kyungsoo, Hurt, PG-17, Romance, Son Wendy, Twoshot

They Never Know #1 (Twoshot)

 

cropped-they-never-know-copy.jpg

Story by thanasa

they never know

Do Kyungsoo [EXO], Wendy Son [Red Velvet] | Twoshot

| Romance, Angst, Hurt |PG 17+ | General

Disetiap senja, aku ingin melukis langit dengan warna mata kita: warna merah kerinduan. (Firman Noveki)

Disclaimer   : Story is absolutely mine. The entire casting is the property of their respective agencies, I just have a plot. This is not perpect story and there’s typo everywhere hehehe. Hope you’ll be enjoy while reading this. DON’T FORGET to RCL and DON’T BE A PLAGIATOR. Gamsahamnida :*…

 

 

La Categorie, Sinsa-dong, Gangnam-gu,Seoul 13 Januari 2016

 

Aku memandang langit senja dengan corak jingga dengan guratan warna kelabu dan biru berpadu menjadi pemandangan yang sungguh menakjubkan. Terlihat segerombolan burung yang melebarkan sayapnya melewati pemandangan menakjubkan itu dengan bebas. Barangkali mereka memang diciptakan untuk menyempurnakan sketsa yang masih menarik atensiku saat ini.

 

Aku menyukai langit senja, begitu indah dan menenangkan. Apalagi jika dipandang dari udara terbuka. Senja ibarat batas, disaat terang mulai tergantikan oleh gelap. Dan disaat langit senja mulai menyembul di langit tempat kita berpijak saat itu, aku melihat senyummu.

Senyum yang tidak kalah indah dari langit senja favoritku.

 

Selamat sore, apakah kau Son Wendy?” kudengar suara rendah dari seorang pria bergema digendang telingaku. Aku menoleh, melihat pria berwajah tampan dengan setelan kemeja berwarna biru muda yang digulung sampai lengan dengan rambut rapi yang dibelah samping, berperawakan cukup tinggi. Ia menaikan kedua sudut bibirnya yang berwarna peach membentuk sebuah senyuman. Aku memandangnya sesaat,

Park Bogumssi?”

Ia mengangguk, dan akupun tersenyum hangat menyambutnya.

 

.

Laut Cina Selatan, Royal Carribean, Quantum of the Seas – 20 Juni 2010

 

Aku tersenyum dan menunduk sopan kepada beberapa rekan bisnis perusahaan kami yang ada di ballroom tempat diadakannya pesta perayaan kesuksesan pameran busana kami beberapa waktu lalu. Ruangan ini sangat indah dan mewah, gemerlapan lighting, dekorasi, bunga , dan meja-meja hidangan makanan tersebar dipenjuru ruangan ini.

 

Hanya ada kurang-lebih 50 tamu undangan – tentunya orang-orang berpengaruh didunia fashion, dan usut punya usut CEO kami –Han Tae Jung, memutuskan untuk merayakan kesuksesan agenda  besar kami tahun ini di kapal pesiar, karena ternyata ia akan berbesan dengan Tuan Huang Bao Zhu si pemilik kapal pesiar yang kami tempati saat ini.

 

Beruntung untukku, karena desain gaun yang kubuat menjadi salah satu the most wanted item di acara pameran perusahaan kami ini, sehingga akupun mendapatkan undangan sekaligus liburan ditempat ini. Aku melihat sekeliling meneliti tiap orang yang hadir dalam private party malam ini. Sebagian aku mengenal mereka lewat layar kaca ataupun dunia maya, akupun tersenyum sopan saat berpapasan dengan para tamu undangan tersebut.

 

Terlintas dalam pikiranku bahwa segala pencapaian yang kudapatkan dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini ternyata cukup besar. Aku gila bekerja, bahkan karena inilah hubungan percintaanku sering sekali kandas ditengah jalan. Bagiku profesionalisme adalah suatu yang penting, dan perfeksionis adalah identitasku.

 

Aku percaya bahwa tidak ada kesuksesan yang diperoleh hanya dengan berpangku tangan. Seperti malam ini, ini adalah salah satu hasil yang kuperoleh berkat kerja kerasku.

Sudah satu hari satu malam aku berada ditengah samudra bersama kapal pesiar super mewah dengan segala fasilitas gaharnya. Tapi jauh dalam hatiku, aku merasa gamang.

 

Ternyata sekuat apapun wanita kita semua butuh cinta, dan aku  baru saja kehilangan itu semua beberapa hari sebelum keberangkatan tour perusahaan yang saat ini kujalani. Lewat satu kalimat singkat lewat media pesan instan, yang bahkan aku tidak bisa mendengarnya langsung dari bibir pria yang sudah mengisi relung hatiku selama beberapa bulan terakhir ini, Lee Minhyuk. Tapi selang satu hari setelah ia memutuskan hubungannya denganku, kudengar kabar ia sudah memiliki kekasih baru yang jauh lebih muda darinya.

Ya, ternyata dia telah main gila dibelakangku.

Dan aku bersyukur hubunganku telah berakhir dengan pria brengsek itu.

 

Alih-alih menikmati jamuan pesta aku beranjak pergi diam-diam dari ballroom megah ini. Aku menyusuri aula besar ditengah kapal menuju ke dek atas. Kutiti satu persatu anak tangga kokoh yang memiliki lebar kurang lebih enam meter, dengan ukiran-ukiran kayu yang telah dipelitur sempurna. Aku menatap mini dress hitam yang kupakai. Ah, andaikan aku mengenakan long dress pastel dengan  bagian dada terbuka dan rambut digelung sempurna tentunya aku sudah menjelma menjadi seorang Rose dalam salah satu  film besar sepanjang sejarah favoritku, Titanic.

 

Aku meringis, tapi mana si ‘Jack’ , aku tersenyum sendiri menertawai khalayan tak berbobot yang baru saja terlintas di benakku. Aku sampai dilantai 8, terdapat bar dan café dengan desain interior modern. Beberapa orang terlihat hilir mudik dipintu masuk bar, ada yang sendiri, bersama teman, atau bersama pasangan mereka –terlihat dari gesture, masing-masing. Aku mencari lift, dan manik mataku menemukannya disebelah barat, akupun berjalan menuju kesana. Tujuanku saat ini anjungan kapal, aku ingin menikmati udara segar.

 

Setelah meniti koridor yang ramai dengan penghuni kapal pesiar ini. Akupun sampai pada dek teratas. Ada papan peringatan bahwa area ini terlarang untuk penumpang, tapi bukan Son Wendy namanya kalau larangan sebatas benda mati tersebut dapat menghalangi langkahku.

 

Aku sedikit berjingkat-jingkat melewati beberapa batang besi penyangga, dan terdapat tangga besi horizontal –seperti yang biasa digunakan untuk membetulkan rumah, menempel pada dinding baja kapal dengan ukuran yang tidak begitu besar. Aku menaiki tangga tersebut satu persatu. Hingga mencapai dek atas yang berhadapan langsung dengan anjungan kapal.

 

Aku menghela nafas lega, kuperhatikan sekitar. Sepi. Juga tidak ada bangku  nyaman, tempat untuk mengistirahatkan kakiku yang memakai heels tujuh senti selama perjalanan ke tempat ‘persembunyianku’ ini.

 

Ahhh, tidak seberapa jauh dari buritan kapal, aku melihat beberapa besi tersusun secara vertikal dan cukup pantas difungsikan sebagai bangku. Setelah duduk aku melepaskan tali temali heels yang kugunakan. Telanjang kaki membuat dinginnya permukaan baja tempatku berpijak saat ini menusuk sampai ke tulang-tulangku. Aku menggosok kedua lenganku kasar. Berusaha menghilangkan rasa dingin yang tiba-tiba menerjangku.

 

Posisi ditempat ini sungguh strategis untuk menatap langit, bentangan cakrawala yang luas menjadi atap yang sungguh indah ditaburi ribuan kilau bintang yang saling berkelipan. Aku memejamkan mata, dan menghirup nafas dalam-dalam, sambil menggenggam besi-besi pembatas anjungan tempatku berdiri, tiba-tiba saja rasa dingin yang menyelimutiku hilang. Aku begitu menikmati keindahan alam yang terhampar begitu saja dihadapanku.

 

Seharusnya anda tidak berada ditempat ini nona, disini sangat berbahaya.” Suara seorang pria asing berhasil membuyarkan aktivitasku. Aku berbalik mendapati seorang pria dengan perawakan pendek, berambut hitam, dengan rahang sempurna, dan bola mata yang cukup besar, sepenglihatanku pria ini adalah seorang keturunan Asia, mungkin Korea sama sepertiku.

 

Aku seketika canggung, walau bagaimanapun sebenarnya aku tahu sudah melanggar aturan –mengingat tentang papan peringatan yang kuabaikan beberapa waktu lalu, namun aku bersikap senormal dan setenang mungkin. Aku berdeham singkat, menanggapi ucapan pria tersebut.

 

Kulihat besi-besi pembatas ini cukup kokoh, jadi kurasa aman-aman saja sepertinya” pria ini tersenyum. Manis. Ternyata pria ini memiliki suatu aura yang begitu kuat, ia melirik kearah papan peringatan yang berada disamping tangga besi yang kunaiki untuk mencapai tempat ini.

 

Melihat kau mengerti apa yang kuucapkan, sepertinya kau juga pasti mengerti apa maksud dari setiap kata yang ditulis dipapan besi tersebut bukan?

Sial.

Ucapannya seakan menohokku, tentu saja. Hey, ibuku berkebangsaan Amerika, walaupun nenek dan kakekku keturunan Korea tapi mereka telah lama tinggal dan menjadi warga negara negeri Paman Sam tersebut, mustahil jika aku tidak bisa berbahasa inggris bukan? Apalagi dengan susunan kata-kata sederhana yang ada dipapan itu, kurasa anak sekolah dasar pun mengerti.

 

Aku kembali hanya bisa berdeham, dan mengelus tengkukku sekilas.

Ahhh… astaga, aku tidak begitu memperhatikannya. Memang disana tertulis apa?” Bodoh. Apa yang kau lakukan Son Wendy , pernyataan bodoh macam apa yang baru saja kuucapkan.

 

Pria pendek tampan didepan sana tergelak, mungkin menertawakan kebodohanku –itu pasti,

Jadi, apa tujuan seorang wanita cantik, dengan pakaian minim. Ditengah laut dengan angin yang cukup besar seperti saat ini. Kau mau bunuh diri atau apa?” aku mendelik seketika mendengar ucapan kurang ajar pria ini –walaupun beberapa fakta yang terlihat memang seperti itu, ia masih memandangku, manik kami beradu dengan pandangan yang berbeda.

 

Apapun tujuanku bukan urusanmu, tuan. Kau tidak berhak melarangku berada ketempat ini.” aku menyilangkan kedua tanganku dan memalingkan pandanganku dari manik hitamnya yang menyebarkan aura kuat yang tidak dapat kumengerti.

 

Sayangnya aku punya hak nona. Aku awak kapal disini, dan aku berhak memintamu untuk meninggalkan area ini, sekarang juga” ia kembali menunjukkan senyum manis –namun menohok, yang telah ia tunjukkan beberapa waktu lalu.

 

Aku menggeram dan mengepalkan kedua telapak tanganku, jujur tidak tahu harus menjawab apalagi. Pernyataan pria ini baru saja memojokkanku, membuatku tidak bisa berkutik. Sebenarnya aku malu setengah mati, tanpa berkata banyak akupun mengambil sepasang heels yang tadi kuletakkan didekat kursi besi, dan bergegas meninggalkan tempat tersebut.

 

Belum  sampai pada tangga besi tempatku akan turun, baritone pria itu kembali menginterupsi langkahku, “Nona…” aku menengok kasar melihatnya dengan tatapan –ada-apa-lagi-pria-menyebalkan-, “Kau bisa memakai ini, udara malam tidak bagus untukmu apalagi dengan baju seperti itu.” aku memutar bola mataku, melihat tingkah ala pahlawan pria asing ini dengan menyodorkan mantel panjangnya yang berwarna hitam. Heol, apasih maksud pria pendek satu ini, dia mau menggodaku atau apa. Setelah ia membuatku malu setengah mati.

 

Tidak usah, pakai saja untukmu sendiri. Aku tidak perlu empatimu, aku akan baik-baik saja tanpa mantelmu itu.” Dan akupun benar-benar meninggalkannya.

 

-o0o-

 

Sudah genap empat malam aku berada ditengah-tengah samudra asia, aku sungguh menikmati perjalananku saat ini. Fasilitas ditempat ini sangat luar biasa, bar yang megah, restaurant dengan menu makanan dari berbagai benua, bioskop, swimming pool yang dapat melihat pemandangan dalam laut, tempat spa, dan tempat menghibur lainnya yang tidak bisa kusebut satu persatu.

 

Tentunya liburanku kali ini akan menjadi liburan yang paling sempurna jika saja tidak ternodai dengan kejadian memalukan beberapa hari lalu dengan salah satu pria pendek asing yang mengaku sebagai awak kapal padaku. Aku menggelengkan kepalaku keras-keras. Saat ini aku kembali berada di sun deck,  yang begitu luas, dan memang diperuntukkan untuk penumpang. Menikmati sinar mentari yang sebentar lagi akan terbenam.

Terdapat bangku santai panjang lengkap dengan payung berukuran besar agar tubuh tidak terlalu terekspos oleh teriknya sinar mentari di musim panas seperti ini. Selain itu, ada juga beberapa bangku kayu yang disusun berkelompok atau memanjang tunggal.

 

Sejujurnya aku lebih menyukai suasana di ajungan kapal yang ‘terlarang’ itu, lebih sepi dan damai. Disini terlalu banyak hiruk pikuk, aku memandang cakrawala. Sudah terlihat goresan warna jingga tanda hari mulai senja, aku tersenyum seraya menggenggam buku sketsa ku.

 

Sebenarnya buku ini, buku tempatku menggambar beberapa desain pakaian yang sedang kukerjakan. Tapi kadangkala akupun suka menggambar objek yang menurutku menarik. Seperti senja hari ini, sepertinya terlalu sayang untuk dilewatkan oleh goresan tanganku.

 

Kepakan burung-burung yang mengudara menambah kesan dramatis visual yang kusaksikan saat ini. Aku begitu terhanyut dengan duniaku, tanganku masih menggoreskan tinta diatas buku sketsa kesayanganku ini.

.

.

.

Ini waktu bebasku, setelah berjaga sepanjang malam berkutat dengan alat-alat navigasi kapal membuatku terlelap hingga hari sudah mulai siang. Saat sedang tidak bertugas, aku memang kerap mengelilingi kapal pesiar tempatku meniti karir sejak lulus menjadi perwira sekolah tinggi ilmu pelayaran ini. Aku menyukai laut, karena ayahku pun seorang pelaut hingga masa produktifnya habis.

Aku banyak menyimpan memori indah bersama kapal dan samudra. Walaupun karena hal yang sama, aku mengalami masa-masa kelam harus ditinggalkan oleh ibu kandungku yang pergi dengan pria simpanannya. Alasannya klasik, karena ayahku seorang pelaut.

 

Kendatipun demikian, aku tidak membenci pekerjaan ayahku yang digadang-gadang sebagai alasan terbesar perpisahan kedua orang tuaku. Ayahku adalah seorang pria dan pelaut yang hebat –setidaknya bagiku, dan mungkin itu salah satu alasan terbesarku mengikuti jejaknya menjadi seorang pelaut.

 

Ayah begitu mencintai ibuku, terlepas dari pengkhianatan yang dilakukannya. Ayah tetap mencintainya sampai akhir hayat. Ia tidak pernah menikah lagi, hidupnya dipenuhi dengan pekerjaan dan tanggung jawab memenuhi kebutuhan masa depanku, setelah ibu pergi meninggalkan kami berdua.

Masa remajaku kuhabiskan bersama kakek dan nenekku di Busan. Yah karena kau tahu, ibuku pergi meninggalkanku dengan selingkuhannya dan ayahku lebih banyak menghabiskan waktunya ditengah samudra dibandingkan daratan.

.

Aku tersenyum menatap lautan yang membentang seolah tanpa batas, biru kelam membuat samudra terlihat sebagai materi yang penuh dengan misteri. Saat tenang, riaknya begitu menghanyutkan seolah-olah kau merasa dalam cangkupan areal yang penuh dengan kedamaian dan keindahan. Namun semuanya bisa menghancurkanmu seketika saat ombak beriringan dengan badai berkecamuk siap melenyapkan segala hal yang ada dihadapan mereka.

 

Aku membalikkan badan memunggungi besi pembatas kapal menatap setiap pengunjung yang selama kurang lebih empat hari ini kulayani. Manik mataku menangkap sosok yang tidak asing.

Ah, si wanita cantik bergaun minim hitam.

 

Saat ini ia sudah berpakaian secara normal, surai cokelat keemasannya begitu mengagumkan dengan manik hazel dan pipi tembam yang tidak mengurangi sedikitpun aura kecantikan yang begitu lekat dari dirinya.

 

Aku sudah bertemu dengan puluhan wanita cantik sebelumnya, selama aku berlayar. Sungguh. Tapi pertemuan kami yang ‘aneh’ beberapa malam lalu memberikan kesan tersendiri untuk diriku. Aku tidak melupakan sedikitpun tatapan matanya yang begitu indah pada malam itu.

 

Aku menjejakkan kakiku melangkah lebih dekat dengan posisinya, aku mengambil tempat duduk yang tidak jauh dari tempatnya, sehingga aku bisa memandanginya dengan puas. Ia menggenggam buku sketsa dan sibuk menggoreskan pensil diatas buku tersebut. Wajahnya begitu terlihat damai dan bahagia, sesekali ia mendongakan kepalanya menatap langit.

Apakah ia sedang melukis cakrawala?

Ah, jadi rupanya ia seorang pelukis. Entahlah, itu hanya asumsiku.

 

Aku berdeham, berusaha menarik atensinya. Tapi wanita ini tidak bereaksi. Aku mencoba berdeham lebih keras, tapi ia masih tidak bergeming. Wanita ini masih sibuk dengan coretan-coteran di atas sketsanya. Aku menyerah dan hanya terus memandanginya. Ia mengerucutkan bibirnya sambil menggoyang-goyangkan kepalanya kesana kemari seolah-olah sedang menikmati suatu irama musik. Aku tergelak melihat aksinya, perempuan ini benar-benar lucu dan menarik.

 

Tanpa disengaja pensil yang sedari dari ia pegang terjatuh dari genggaman tangannya, aku bergegas membantu mengambilnya, sampai jarak diantara kami menjadi sangat dekat. Ia mendongakan kepalanya melihatku, bola matanya membesar seketika, mulutnya menganga seolah ia sedang melihat hantu, aku tersenyum menanggapinya.

Ini, milikmu kan?

 

Astaga, pria ini. Kenapa ia bisa ada dihadapanku tiba-tiba. Ia tersenyum padaku, dengan jarak sedekat ini aku bisa melihat dengan jelas garis-garis wajahnya yang ternyata memang begitu menawan. Aku mengerjap-ngerjapkan mata seperti orang bodoh,

 

Ini, milikmu kan?” suaranya membuyarkan lamunanku dan menyadarkanku, aku segera berdiri menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Ia mengikutiku kemudian, dan kami masih saling berhadapan. Aku memalingkan wajahku kesana-kemari tidak mau menatapnya, ia masih menyodorkan pensil milikku. Akupun mengambilnya dengan cepat,

 

Te..terimakasih..” yak, Son Wendy mengapa kau tergagap. Kau makin terlihat konyol didepan pria ini. ia mengangguk mantap. Aku kembali mengelus tengkukku –kebiasaan buruk saat sedang merasa canggung, ia masih memandangiku dengan kedua bola mata jernih miliknya.

Kau sendiri saja?” tanyanya tiba-tiba,

Yang kau lihat bagaimana?” aku berusaha menjawab seketus mungkin, ia melihat sekeliling.

Disini sih ramai, tapi aku tidak tahu apa diantara mereka ada yang mengenalmu.” Huh, dasar pria yang pintar bicara.

Tidak, aku sendiri. Beberapa rekanku ada yang sedang berenang dibawah, yang lainnya sedang istirahat dikamar masing-masing.” Tukasku akhirnya, ia mengangguk-angguk mendengar jawabanku.

Jadi aku bisa menemanimu dong sekarang?”

Skakmat, pria ini memang benar-benar pintar berkata. Aku harus menghindari pria asing ini, benar bukan? tapi entah mengapa ada salah satu sisi dalam diriku yang bersikeras ingin ia tetap berada disini,

Bukankah seorang crew seharusnya sibuk dengan pekerjaannya mengemudikan kapal ini?” ia kembali tersenyum dan memalingkan wajahnya sekilas, sebelum kembali menatapku intens,

Aku kan tidak bekerja sendiri nona-” ia menghentikan kalimatnya tiba-tiba menatapku dengan tatapan yang tidak dapat kumengerti, aku mengerutkan kening tidak mengerti, “Kufikir aku harus mengetahui namamu, tidak nyaman menyebutmu dengan nona terus menerus.”

Aku menatapnya ragu, ia bertanya namaku bukan? aku tidak salah dengar kan. Ia masih manatapku seolah menuntut jawaban,

Son Wendy, namaku Son Wendy.

Aku Do Kyungsoo

Dan seperti itulah perkenalan kami yang begitu singkat, dilatari oleh langit senja dengan jingga kelabu yang menghiasi cakrawala.

 

-o0o-

 

Samudra Pasifik, Royal Carribean, Quantum of the Seas – 1 Juli 2010

 

Tour selama 14 hari dikapal pesiar ini terasa begitu menyenangkan untukku. Ditambah lagi karena aku mengenal seorang pria bernama Do Kyungsoo. Pada awalnya insiden pertemuan dengannya merupakan sesuatu hal yang memalukan. Tapi sekarang aku berpikir bahwa itu adalah salah satu cara Tuhan mempertemukan kami.

 

Ia adalah salah satu pelaut yang menjadi crew dikapal pesiar tempatku saat ini berada. Yang ada dalam bayanganku seorang pelaut adalah pria-pria tampan bertubuh tinggi dan atletis, rambut dengan potongan rapi pendek dan pribadi yang sedikit kaku.

 

Tapi ternyata ekspektasiku meleset jauh.

Do Kyungsoo bukanlah seorang pelaut yang seperti itu.

Ia seorang pribadi yang menyenangkan, dengan tubuhnya yang tidak begitu tinggi –malah cendrung pendek buatku, ia tampan tentu saja, cerdas, perhatian dan selalu to the point. Meski demikian aku merasa nyaman berada didekatnya.

 

Beberapa hari ini kami sering bertemu dan mengobrol, aku mengunjungi bar bersama, menikmati langit senja di anjungan, tempat ‘terlarang’ saat kami pertama kali bertemu, atau makan malam bersama.

 

Sebenarnya waktu pertemuan kami tidak tentu, karena ia harus bertugas dan melakukan pekerjaannya dengan profesional. Tapi tiap harinya, ia menyempatkan diri untuk menemuiku walau hanya untuk berbincang singkat. Dan aku cukup tersanjung karena itu.

 

Dan pada pagi ini, aku menyelesaikan sarapanku dan hendak keluar dari mini café yang terletak dilantai sembilan tidak jauh dari area bilik kamarku. Ia sudah berdiri diluar menyandar pada tembok besi bercat putih, senada dengan seragam yang ia kenakan. Ia terlihat tampan dengan baju itu. Kedua telapak kanannya ia masukkan kedalam kedua sisi saku celananya .

 

Aku tersenyum dan melangkah menghampirinya,

Kau tidak tugas?

Sedang tugas kok.” Ujarnya sambil tersenyum,

Tugas kok di area café? Kau sudah alih profesi jadi koki, huh?” ia tergelak mendengar ucapanku, aku tersenyum dan tidak merasa tersinggung sama sekali karenanya.

Aku ingin menemuimu dan mengatakan sesuatu.

Eoh?” ia terlihat memajukan beberapa langkahnya dihadapanku, menghapus beberapa jarak antara kami berdua. Bibirnya mendekat ke arah daun telinga kananku, sontak aku membelalakan mata.

 

Astaga, apa-apaan ini. Ritme jantungku berdetak tidak terkendali. Darahku terpompa dengan kencang saat ini, tentu saja rona kemerahan sudah menjalar disekitar pipiku, tapi aku tidak mampu bergerak seolah Ia menyihirku.

 

Aku tunggu kau jam 5 sore nanti ditempat biasa. Jangan sampai terlambat, aku menunggumu.” Ujarnya singkat, lalu menatap kedua manikku lekat. Tersenyum lalu meninggalkanku begitu saja.

Aku hampir saja limbung dengan perlakuannya barusan, seperti jantungku jatuh begitu saja meninggalkan rongga dadaku. Aku menepuk-nepuknya dengan keras dan menghela nafas panjang, setelah sadar dan kembali pada dunia nyata. Aku berbalik mentap punggungnya yang semakin menjauh pergi.

Dasar pria menyebalkan.

.

.

Aku memilih pakaian terbaikku, walaupun tidak seindah pakaian pesta yang kugunakan saat pertama kali bertemu dengannya. Pertemuan ini membuatku gelisah seharian, ritme jantungku berdetak tidak beraturan. Setiap saat aku memeriksa arloji, atapun jam tangan vintage kesayanganku berharap jam lima sore datang secepatnya. Namun, saat pukul empat tiba perasaanku semakin bergemuruh tidak menentu. Aku serasa ingin pergi sejauh mungkin, tidak siap dengan segala kemungkinan yang ada. Walau sesungguhnya seluruh tubuh, pikiran dan perasaanku menuntutku untuk segera menemuinya. Menemui pria menyebalkan yang mengisi hari-hariku saat berada ditempat ini.

 

Dan saat ini aku sudah berada di ajungan tempat ‘terlarang’ bagiku sekaligus tempat favorit bagi kami berdua untuk menghabiskan waktu bersama. Aku duduk dibangku besi –bisa dikatakan begitulah, satu-satunya yang ada disekitar anjungan kapal ini. aku menatap lurus kedepan. Tempat ini adalah bagian anjungan tertinggi yang ada dikapal ini, dan letaknya dibagian depan kapal. Jika kau melihat kebelakang, satu lantai diatas adalah tempat nakhoda kapal dan crew nya sibuk mengemudikan kapal pesiar ini. Dan disanalah tempat Kyungsoo bertugas.

Aku menoleh kebelakang dan menatap barisan kaca kokoh yang menutupi ruang kontrol kapal tersebut, berharap Kyungsoo pun melihat dan menyadari kehadiranku ditempat ini.

 

Tapi aku tidak menemukan apa-apa. Kulirik jam tangan vintageku, puku 4.57, ahh memang belum genap jam 5 bukan? akupun memutuskan untuk kembali menatap bentangan samudra biru yang terhampar dihadapanku. Saat dilihat dengan seksama, seolah tidak ada batas antara bentangan laut yang membujur biru dengan cakrawala senja berwarna jingga yang begitu hangat. Mereka seolah menyatu, tanpa batas yang berarti dan aku tersenyum. Karena laut dan langit senja adalah dua hal yang begitu kami sukai –aku dan Kyungsoo.

 

Kyungsoo dengan lautnya yang begitu menenangkan dengan sejuta misteri, dan langit senja yang begitu hangat dan penuh dengan kebebasan, bagitu sempurna dan aku menyukainya.

 

Kedua pandanganku menjadi gelap seketika, dengan sepasang telapak tangan kokoh menutupi jarak pandang kedua bola mataku.

Tangan Kyungsoo.

Aku tersenyum mendapat perlakuan yang tidak biasa ia lakukan.

Kyungsoo-ah, tidak lucu deh” ia terkikik pelan dan melepaskan kedua tangannya dari wajahku. Dan mengambil tempat untuk duduk disampingku.

Bukannya romantis? Wanita suka dengan hal-hal seperti itukan?” aku terkekeh pelan mendengar pernyataannya.

Kau pikir aku remaja perempuan yang sedang kasmaran, huh?”

Loh memangnya kau tidak kasmaran dengan pria tampan bermasa depan cerah sepertiku?” aku kembali tergelak mendengar kata-katanya, walaupun sebenarnya dadaku bergejolak pula mendengarnya.

 

Ia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, aku merasa risih dengan tatapannya. Sehingga akupun meneliti setiap detail benda yang melekat ditubuhku, takut-takut ada yang melekat tidak benar ditubuhku. Tapi aku yakin sudah memakai pakaianku dengan benar kok, aku sudah berulang kali menatap kaca didalam kamarku untuk mengoreksi semua barang yang kukenakan sebelum keluar dari kamar menemui Kyungsoo.

 

Ia melepaskan mantel hitam panjangnya, dan melampirkannya di kedua bahu dan direkatkan kedalam tubuhku,

 

Lagi-lagi memakai baju minim, aku tau kau begitu cantik Wendy-ah dengan baju seperti itu. Tapi ini anjungan, kau bisa sakit karena memakai baju itu,” ia menatapku begitu hangat, manik kami saling bertemu, “Dan percayalah, dimataku, kau selalu cantik dengan pakaian apapun yang kau kenakan.” Sial. Lagi-lagi kata-katanya membuat kontrol tubuhku tidak bekerja dengan baikku.

Aku yakin seratus persen rona kemerahan sudah menyeruak dikedua pipiku, bahkan saat ini aku merasakan sengatan listrik disetiap organ tubuhku. Ada desiran-desiran halus yang begitu menyenangkan namun berbanding terbalik dengan gejolak yang terdapat diperutku saat ini.

 

Aku memalingkan wajahku menyerah, namun tangan kokoh Kyungsoo menahan daguku agar tetap menatapnya. Sedetik kemudian, aku merasa terbang meninggalkan tubuhku.

 

Seluruh organku melemas, saat bibir Kyungsoo menyapu permukaan bibirku dengan lembut. Tidak tahu harus berbuat apa, aku tidak sedikitpun melawan perlakuannya padaku saat ini. Pelan-pelan kupejamkan mataku dan membalas ciumannya.

 

Selang beberapa waktu kami melepaskan tautan ini secara perlahan. Kyungsoo membelai surai cokelatku dengan lembut, kami saling menatap dalam diam. Lalu ia mulai memeluk tubuh mungilku erat.

 

Jadilah kekasihku Wendy-ah, aku mencintaimu.” Ia melepaskan pelukannya perlahan dan kembali menatapku, aku melihat sorot matanya mencari tanda-tanda kebohongan, tapi aku tidak menemukannya sedikitpun. Yang ada hanya sorot kejujuran yang penuh rasa cinta.

 

Kali ini aku yang berganti memeluknya erat, yah aku begitu bahagia. Akupun merasakan ketertarikan yang sama pada pria ini. Aku menyukainya, jelas aku tidak mau melepaskannya.

Aku juga mencintaimu Kyungsoo-ah…

 

-o0o-

 

Baru dua hari sejak aku dan Kyungsoo memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, dan hari ini perjalananku bersama Royal Carribean, Quantum of the Seas –kapal pesiar tempat Kyungsoo bekerja, akan berakhir.

 

Kyungsoo menghantarku sampai ke dermaga, ia membawakan koper perjalananku. Aku sungguh tidak rela berpisah dengannya, bukan apa-apa hubunganku dengannya baru berjalan dua hari. Kau bayangkan! Dua hari. Jadi kau pasti mengerti kan apa yang kurasakan saat ini, kan?!. Aku memandangnya gelisah dengan sorot kesedihan yang mendalam, Ia tersenyum hangat menenangkanku,

Kau tidak sedih berpisah denganku?” aku merengek karena sikapnya yang terlihat tenang-tenang saja, sedangkan aku?!

Aku rasanya ingin berangkat berlayar kembali mengikutinya, jika tidak ingat dengan setumpuk pekerjaan yang menungguku di kantor setelah perjalanan ini.

Kyungsoo menggeleng pelan, dan mencubit batang hidungku lembut,

 

Kata siapa aku tidak sedih? Kau tidak tahu saja apa yang kurasakan didalam sini” ucapnya sambil menunjuk dadanya, “Tapi kita juga punya tanggung jawab masing-masing wendy-ah. Kau dengan kantormu dan aku dengan kapalku. Aku juga harus memikirkan segala hal untuk kelangsungan masa depan kita nantinya bukan?blush . Lagi-lagi, pernyataan yang dilontarkannya selalu sukses membuat hatiku berdesir.

 

Sungguh walaupun jarak dan waktu akan menjadi tantangan hubungan kami, ingin ingin percaya bahwa setiap kata-kata manis yang ia ucapkan padaku selama ini suatu saat akan ditepatinya.

Aku berpelukan dengan erat, ia mengelus-elus suraiku dengan lembut,

Jaga dirimu. Jangan telat makan karena banyak pekerjaan, dan jangan sering memakai pakaian minim. Apalagi saat sudah memasuki musim gugur nanti.” Aku mengangguk pelan,

 

Kau juga. Jangan banyak minum soju atau minuman keras lainnya. Dan jangan main gila dengan perempuan-perempuan cantik yang nanti jadi penumpangmu.” Aku menekankan kalimat terakhirku dengan nada mengancam. Tapi ia malah terkekeh pelan, seolah-olah yang kukatakan adalah sebuah lelucon, “Aku tidak bercanda Kyungsoo, aku sungguh-sungguh akan me-

 

Bibirnya sudah menutup bibirku dengan sempurna, sehingga kata-kata yang belum selesai kulontarkan hanya tercekat dikerongkonganku. Ia melumatnya dengan lembut, dan aku selalu menikmati perlakuannya padaku seperti ini.

 

Jangan berpikir dan berkata macam-macam. Kau pikir kau mau apa hah? Menikahiku?” aku mendelik mendengar ucapannya, yang benar saja bertemu kurang dari dua minggu dan hubungan yang baru berjalan dua hari Ia sudah berani berbicara tentang pernikahan.

Bukannya aku tidak mau menikah dengannya, hanya saja kupikir untuk saat ini, ahh… entahlah, “Tentu saja kita akan menikah nanti, tapi tunggulah dahulu sampai tabunganku cukup. Aku yang akan pergi melamarmu saat itu juga.” Ia mengedipkan sebelah matanya padaku, wah aku benar-benar kehabisan kata-kata menghadapi pria menyebalkan yang telah menjadi kekasihku ini.

 

Itu taksimu datang..” aku menoleh dan mendapati taksi yang akan membawaku ke subway kereta cepat untuk kembali ke Seoul memang sudah datang,

Datanglah ke Seoul secepatnya setelah kau mendapat libur. Aku pasti akan merindukanmu.” Saat ini mataku terasa memanas, aku yakin sebentar saja pasti airmataku sudah jatuh meleleh membasahi kedua pipiku.

Kyungsoo mengecup keningku lembut, dan kembali memelukku,

Aku pasti akan datang. Aku mencintaimu

.

.

.

 

Yeomgok-dong, Seocho-Gu,Seoul – 7 September 2010

 

Aku menghempaskan tubuhku ke sofa broke pink kesayanganku, tubuhku benar-benar terasa remuk redam, tim desain art ku dikantor baru saja menjadi sponsor untuk penata busana salah satu film hollywood yang akan dirilis pertengahan tahun depan, film yang akan dibintangi oleh beberapa bintang film ternama nyatanya menguras segala tenaga dan konsentrasiku beberapa waktu belakangan ini.

Aku bersyukur karena mampu menjadi salah satu bagian dari tim ini, hanya saja memang profesionalisme menuntutmu untuk memberikan segala sesuatu yang terbaik, mengorbankan waktu santai dan istirahat adalah resikonya.

Untungnya saat ini ada salah satu alasan lagi yang membuatku merasa sedikit terhibur, aku mempunyai kekasih ‘seluar-biasa’ Kyungsoo. Yah, walaupun memang sudah dua bulan ini aku begitu merindukannya, bagiku menatap wajah tampannya di layar ponselku tidak akan pernah cukup untuk mengobati rasa rinduku. Setidaknya kami berdua tidak pernah saling meributkan betapa banyaknya pekerjaan kami masing-masing dan membuat kami terkadang bisa tidak saling berkomunikasi seharian.

Suatu hal yang tidak pernah aku dapatkan dengan kekasih-kekasihku sebelumnya.

Aku melirik jam tanganku. Jam 02.00 KST. Astaga ini bukan larut. Tapi sudah pagi. Dengan susah payah aku mengangkat bobot tubuhku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dan pergi tidur.

.

Aku sedang menggosok gigi ketika ponselku berdering, aku tersenyum mendengar nada dering yang terdengar dari ponselku tersebut.

Panggilan dari Kyungsoo.

Aku masuk dan mengambil ponsel yang tergeletak diatas buffet kecil didalam kamarku.

“Soo-yah…”

Eoh… knapa kau tidak mengucapkan salam terlebih dahulu?

“Heol. Kau pikir aku tipe gadis yang suka berbasa-basi huh?” aku mendengarnya tergelak dengan penuturanku,

Karena itulah aku tergila-gila padamu.” Sungguh aku tidak bisa menahan senyumku saat mendengar ucapan manis yang meluncur begitu saja dari bibir kyungsoo. Aku memejamkan mataku dan membayangan setiap guratan wajahnya yang sempurna.

“Aku merindukanmu, Soo-yah” ucapku lirih. Kyungsoo tidak berbicara sedikitpun, aku tidak mendengarnya menghela nafas atau apapun itu. Ia hanya diam.

“Soo-yah??”

Aku juga merindukanmu. Sangat. Rasanya mau gila karena ingin melihat wajahmu dan memelukmu.” Mataku mulai berkaca-kaca.

Arghhh, mengapa kau menjadi begitu melankolis semenjak berpacaran dengan pria bermata besar ini Son Wendy.

Jadi bagaimana dengan pekerjaanmu dengan orang-orang bule itu dear? Kau tidak terjebak cinta lokasi dengan salah satu pria bule bertubuh tinggi besar disana kan? aku terbahak mendengar ucapan Kyungsoo, ia benar-benar bukan pria pencemburu. Nadanya yang begitu dibuat-buat terdengar sangat lucu ditelingaku.

“Hmmm… sebenarnya pria bule tampan bertubuh tinggi besar itu benar-benar menggoda-“ aku sengaja menggantungkan kalimatku, aku membayangkan wajah Kyungsoo yang pasti dibuat sedatar mungkin –Kyungsoo memang tipikal pria dengan minim ekspresi, tapi tetap terlihat lucu di hadapanku, “Tapi aku sudah terlanjur jatuh hati pada pelaut tampan yang bertubuh pendek. Aku sekarang jadi merasa seram melihat pria-pria bertubuh tinggi besar hahahhahaha”

Hmmm, sekarang aku jadi bingung mau merasa senang atau tersinggung dengan pernyataanmu dear…”

“Tentu saja kau harus senang. Setidaknya untuk fakta bahwa kau punya kekasih secantik dan sesempurna diriku yang sabar menantimu kembali dari pelayaran panjangmu itu”

Untuk hal yang satu itu aku setuju seratus persen aku kembali mengulum senyum mendengar jawaban Kyungsoo dengan tone berat ciri khasnya. Begitu merdu ditelingaku.

 

-o0o-

 

Dome Art Fashion,Gangnam-gu,Seoul – 10 Desember 2010

 

Aku sudah kembali sibuk dengan pekerjaanku yang lain dikantor, kertas-kertas berisikan sketsa desain pakaian yang sudah kukerjakan berserakan di meja kantorku. Aku masih memandangi layar laptop memeriksa beberapa email dari supplier kain dan beberapa konsumen VIP yang telah berlangganan dengan perusahan mode tempatku bekerja.

 

Wendy-ah, kau dipanggil keruangan  sajangnim.” Kang Seulgi salah satu rekan kerja yang cukup dekat denganku muncul tiba-tiba dipintu ruanganku. Aku pun mengangguk dan tersenyum mendengar ucapannya,

Eoh, Gumawo Kangseul

.

Aku berada kantin kantor bersama Seulgi menikmati kopi dan kimbab yang kubuat untuk kudapan siangku. Kami menikmati santap siang tersebut sambil menikmati pemandangan kota Seoul yang begitu ramai dan padat siang ini dari kaca besar yang mengelilingi ruangan ini.

 

Jadi kau masih berhubungan dengan pelaut itu?” tanya Seulgi tiba-tiba, aku mengangguk sambil mengunyah sepotong kimbab yang baru saja kusuap kemulutku,

Daebak, sudah berapa lama kalian berhubungan?” aku mengerutkan keningku berusaha menghitung waktu berkencan kami yang sedikit terasa maya,

Hampir enam bulan sepertinya” tukasku kemudian,

Tanpa pertemuan sekalipun?” aku mengangguk lagi,

Kau tidak jenuh dengan hubungan seperti ini?” aku menggeleng menanggapi pertanyaan Seulgi.

 

Sejujurnya menjalani hubungan seperti ini memang tidak mudah, ada saat-saat aku begitu merindukannya dan rindu itu seakan tidak tertahan. Tapi komunikasi kami sejauh ini berjalan lancar, dan Kyungsoo selalu sukses menenangkanku saat rasa gelisah itu datang,

 

Kami berkomunikasi dengan baik kok. Lagipula bulan depan ia akan dapat libur, jadi aku bisa melepas rindu dan bertemu dengannya. Aku akan mengenalkannya padamu nanti”  Seulgi hanya mengedikkan bahu mendengar ucapanku dan melanjutkan makan siangnya.

-o0o-

 

Yeomgok-dong, Seocho-Gu,Seoul – 21 Januari 2011

 

Aku menatap cermin berkali-kali, senyumku benar-benar merekah saat ini. ini adalah hari yang begitu kutunggu-tunggu.

Aku akan bertemu dengan Kyungsoo.

 

Ia akan menjemputku satu jam lagi, dan kami akan pergi berkencan. Bisa dibilang ini adalah kencan pertama kami, di daratan. Aku memakai mini dress berwarna pastel favoritku dengan legging hitam dan coat cokelat tebal. Tampil cantik dihadapan Kyungsoo memang tujuanku, tapi mengingat bahwa sekarang adalah musim dingin dan Kyungsoo tidak terlalu suka jika aku memakai busana yang mengekspos beberapa bagian tubuhku membuatku berubah pikiran, dan  kembali merombak pakaian yang kugunakan menjadi lebih santai dan ‘tertutup’.

 

Bunyi pesan singkat menginterupsi kegiatanku untuk mengulas make up tipis didepan kaca.

Aku sudah didepan apartemenmu.

Pesan singkat darinya sukses membuatku membelalakan mata, segera kupulas lipgloss pink secepat kilat, memeriksa sekali lagi mini boots yang kugunakan, dan menyambar hand bag yang akan kupakai. Astaga ini bahkan belum genap lima belas menit dan sekarang ia bilang sudah didepan apartemenku.

.

Pintu lift terbuka dan dengan setengah berlari aku mencapai area depan apartementku , aku merindukan Kyungsoo. Manik ku berusaha mencari sosok yang sudah lama kurindukan tersebut, dan terlihat seorang pria bertubuh pendek dengan coat hitam panjang memunggungiku, ia berdiri didekat bangku taman apartemenku.

Ia membalikkan badannya, manik kami bertemu. Aku berlari menghampirinya, saat jarak kami sudah tidak jauh nafas kami memburu, karena suhu udara yang begitu dingin dan perasaan rindu yang begitu menggebu.

Kyungsoo pun menarikku jatuh kedalam pelukannya.

aku merindukanmu Wendy-ah

.

.

Aku melirik jam dinding besar yang tergantung diruang kerja kantorku. Sudah pukul 9 malam dan pekerjaanku belum selesai. Aku mulai gelisah, seharusnya malam ini jadwal kencanku dengan Kyungsoo mengingat empat hari lagi Ia akan kembali berlayar.

Aku menatap meja Seulgi, dan ia masih berkutat dengan layar laptop miliknya. Aku menghela nafas singkat lalu kembali berusaha menyelesaikan pekerjaanku agar bisa cepat pulang.

Gelisah karena pekerjaanmu belum selesai,huh?” aku mendongakan kepalaku mendapati Seulgi yang berdiri dekat dengan meja kerjaku sambil mebolak-balikkan lembaran kertas yang terdapat pada map biru digenggamannya, aku memicingkan mata menatapnya, “Hey, kau tidak bisa memandangku dengan pandangan seperti itu! Sebentar lagi aku akan menjadi dewi cupid yang menyelematkan hubungan cintamu” ia masih berceloteh ria seraya membanggakan dirinya sendiri. Aku memutar bola malas,

Berhentilah bicara omong kosong Kangseul, ini sudah malam dan seperti katamu, aku harus pulang cepat. Ada seseorang yang menungguku.

Karena itulah aku disini.” Aku mengerutkan keningku membentuk tiga garis horizontal secara sempurna, “Tinggalkan pekerjaanmu.” Aku membelalakan mataku spontan mendengar ucapan Seulgi. Ia serta merta mengambil alih tempat dudukku dan berusaha mendorongku pergi dari bilik kerjaku. Aku masih saja melongo, kaget menerima perlakuan seperti ini darinya. Aku hanya bisa membiarkan ia menguasaiku dengan mengikuti segala yang ia perintahkan, dengan wajah blank.

Yak Son Wendy, kenapa kau masih berdiri disitu seperti patung? Pulanglah, file ini tinggal di finishing dan dikirim ke art director kan?” Seulgi kembali berceloteh, sambil sesekali menatapku dan layar laptop secara bergantian.

Eoh..” dan aku hanya bisa mengangguk-angguk seperti orang bodoh.

Menyadari eksistensiku yang masih berdiri mematung seperti orang bodoh, Seulgi menghujaniku dengan lirikan tajamnya,

Wendy. Aku duduk disini membantu menyelesaikan pekerjaanmu bukan untuk ditonton seperti ini. Pulanglah, mungkin kekasihmu sudah menunggumu.” Seulgi tersenyum.

Ya Tuhan, tidak ada satupun kalimat yang bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Yang jelas aku merasa sangat beruntung karena memiliki teman sekaligus rekan kerja seperti Kang Seulgi.

Sadar akan kinerja otakku yang beberapa waktu lalu berjalan lamban, akhirnya aku segera mengambil tas kerjaku yang kuletakkan didalam laci rak meja kantorku. Dan memeluk tubuh kurus Seulgi dengan erat,

Gumawo Kangseul, aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan melupakan ini” dan segera aku pergi setelah memberikannya kecupan singkat, ia hanya mengomel menerima perlakuan ‘menjijikan’ dariku tersebut.

.

.

Benar saja, ternyata Kyungsoo sudah berada di taman dekat dengan apartemenku selama kurang lebih setengah jam. Ditambah dengan perjalananku pulang, mungkin ada sekitar satu jam lebih ia menungguku diruang terbuka ditengah turunnya salju seperti saat ini. Kekasihku ini memang benar-benar bodoh.

 

Terang saja aku mengomelinya setelah kami bertemu, aku bertanya mengapa ia tidak menghubungiku ataupun mencari tempat yang lebih hangat, ia hanya menjawab bahwa ia takut mengangguku dan yakin bahwa aku akan datang tepat waktu. Dan kalau menurutnya menunggu ditengah salju selama satu jam sebelum aku muncul adalah definisi ‘tepa waktu’ maka ia benar seratus persen. Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya, demi Tuhan tangannya dingin sekali. Bahkan hidung dan telinganya yang ditutupi syal abu-abu tebal tetap terlihat merah karena dinginnya cuaca malam ini.

Ditengah keadaan menggenaskan yang membuatku sebal sekaligus tidak tega dengan keadaannya saat ini, ia tetap bisa tersenyum manis padaku. Aku menggenggam tangannya dan mengajaknya segera beranjak pergi dari tempat yang luar biasa menusuk tulang ini.

.

Ruangan dengan ukuran yang cukup besar dilengkapi dengan furniture yang di dominasi dnegan warna pastel terhampar jelas. Susunan ruangan tersebut terlihat sederhana namun ada kesan hangat yang begitu mendalam. Ditengah ruangan tersebut terdapat satu sofa panjang yang berhadapan dengan layar televisi flat 32 inch. Diatas sofa tersebut ada seorang pria yang tengah sibuk memandangi seorang wanita yang masih sibuk di pantry yang terletak tepat disebelah kanan sofa tempatnya duduk saat ini.

 

Sorot matanya memperlihatkan betapa Kyungsoo tidak mau kehilangan moment untuk menatap Wendy barang sedetik saja. Wendy masih berada di pantry sambil memulai obrolan kecil dengan Kyungsoo. Saat membalikkan tubuhnya wendy sadar bahwa dirinya sejak tadi dipandangi oleh sorot tajam kedua mata Kyungsoo.

Aigo… kau mau membuatku lari dengan memberikan pandangan seperti itu, huh?” Wendy berjalan menuju ruang tengah apartemennya dengan membawa nampan berisi dua mangkuk kimchi soup yang segera disambar Kyungsoo. Jadilah pria itu yang membawanya, sehingga Wendy kembali ke pantry untuk mengambil botol air mineral.

Hey Tuan Do, kau mengacuhkanku, eoh?” Kyungsoo hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan kekasihnya.

Jadi menurutmu memandangimu tanpa berkedip itu artinya aku sedang mengacuhkanmu, huh?

Tidak sih. Sudahlah, ayo kita makan sup ini, kau butuh sesuatu yang hangat setelah berdiri dengan sok tangguh ditengah salju tadi.” Wendy baru akan mengambil sendok dan sumpit untuk Kyungsoo, saat tubuh pria yang memiliki tubuh pendek itu menguncinya dengan pelukan dari belakang tubuhnya. Wendy tersenyum sekilas mendapat perlakuan seperti itu, desiran-desiran hangat mulai menjalar dalam tubuhnya.

Bagiku, seperti ini jauh lebih hangatbaritone suara Kyungsoo menggema di telinga Wendy. Ia berusaha membalikkan tubuhnya menghadap Kyungsoo, manik mata mereka bertemu. Wendy tersenyum dan membalas pelukan Kyungsoo,

Iya, tapi kau. Tidak, maksudku kita, tetap harus makan Soo-yah. Setelah itu kau bisa memelukku selama yang kau mau.

Aku mau Selamanya. Kupegang janjimu untuk itu.

So, can you set me free, and start to eat before all of this being cold, light hand* ?

Hahahhaha I never said that with you, how can you know a stuff like that?

Of course I can, that’s show how much I care all ‘bout you!

 

 

TBC

 

Footnote:

Light hand, Pelaut yang muda tetapi pintar.

 

 

Hai-haiii,

 

FF ini udah pernah di publish di Do Kyungsoo Fanfiction Indonesia tapi aku post ulang di blog pribadiku yang gak seberapa ini wkwkwkwkwkwkkk… semoga kalian suka 🙂

Berani ngintip? Kasih Jejakkk dong… makasih :*

Withlove

thanasa

 

Advertisements

Author:

I am a ordinary girl, who love Do Kyungsoo damn much... -You may know My Name, But You don't really know Who I am- (:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s